I Wayan Aryabiantara Raih Gelar Doktor Berkat Studi Inovatif Manajemen Terapi Cairan pada Pasien Sepsis

Doktor

Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi yang memperoleh manajemen terapi cairan restriktif terkontrol non-invasif dan kelompok kontrol yang ditangani menggunakan manajemen terapi cairan standar statis. Pengambilan darah serial dilakukan pada jam ke-0, ke-6 dan ke-24. Data dianalisis menggunakan SPSS. Analisis yang dilakukan yaitu analisis deskriptif, dan analisis bivariat. Analisis bivariat yang digunakan uji Mann-Whitney, independent T-test dan Pearson Chi-Square test. Nilai p dianggap signifikan jika < 0.05.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya penurunan rerata kadar SDC-1 dan VCAM-1 pada kelompok intervensi. Penurunan kadar SDC-1 antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol signifikan pada perbandingan di ketiga waktu pengambilan (p< 0,05).

Selain itu perbedaan pola penurunan rerata kadar VCAM-1 di ketiga waktu pengambilan juga signifikan secara statistik (jam ke-6 vs. jam ke-0: p=0,003; jam ke-24 vs. jam ke-6: p=0,002). Adapun perbedaan rerata penurunan kadar laktat tidak signifikan diantara kedua kelompok (p=0,416).

Selain itu, perbandingan penurunan skor SOFA diantara kedua kelompok tersebut juga tidak signifikan secara statistik (p=0,447; p>0,05). Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam memilih manajemen atau metode terapi cairan pada pasien sepsis seiring dengan hasil penanda yang ditunjukkan pada penelitian ini.  

Ujian dipimpin oleh Dekan FK Unud, Prof. Dr. dr. Komang Januartha Putra Pinatih. M.Kes. dengan tim penguji:

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top