MANGUPURA-fajarbali.com | Kemegahan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park kembali menjadi saksi bisu lahirnya karya-karya seni sakral yang memukau. Bertepatan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi, GWK sukses menyelenggarakan Festival Ogoh-Ogoh tahun ke-6 yang kini telah menjelma menjadi landmark budaya sekaligus ruang ekspresi bagi masyarakat Bali. Tahun ini, festival tersebut tidak hanya sekadar menjadi ajang perlombaan, melainkan wujud nyata komitmen GWK dalam menjaga api pelestarian budaya tetap menyala di tengah arus modernisasi.
Sebanyak 15 banjar terpilih dari Kecamatan Kuta Selatan menunjukkan taringnya setelah berhasil lolos dari proses kurasi ketat yang diikuti oleh 33 pendaftar. Sejak pukul 16.00 WITA, area Festival Park hingga kawasan Mandalaloka dipadati oleh pengunjung yang ingin menyaksikan parade patung raksasa tersebut secara langsung. Alur kunjungan yang tertata rapi memberikan kenyamanan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati kekayaan budaya Bali secara utuh dalam satu kawasan terpadu.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch Rossie Andriani, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme peserta yang melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, fenomena ini adalah sinyal positif bahwa generasi muda Bali memiliki kepedulian yang mendalam terhadap identitas mereka. "Festival ini diharapkan menjadi etalase budaya yang terbuka, di mana setiap goresan seni dan struktur ogoh-ogoh dapat diapresiasi oleh dunia sebagai bentuk kolaborasi harmonis antara komunitas dan penyelenggara," ungkapnya.
Di balik detail artistik yang mengagumkan, terselip kisah haru tentang dedikasi tanpa batas dari para anggota Sekaa Teruna Teruni (STT). Selama berminggu-minggu, para pemuda ini mengorbankan waktu istirahat mereka, bahkan sering kali bekerja hingga dini hari demi menyempurnakan setiap lekuk karya. Proses panjang ini pun berubah menjadi ruang edukasi non-formal yang mempererat ikatan emosional antar-generasi di tingkat banjar, sekaligus membuktikan bahwa semangat gotong royong masih mendarah daging.
"Kami ingin memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk lomba, tetapi untuk menunjukkan identitas kami sebagai masyarakat Bali," ujar salah satu perwakilan STT dengan nada bangga. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa bagi para pemuda ini, ogoh-ogoh adalah representasi jiwa dan nilai spiritual yang mereka usung. Kerja keras tersebut akhirnya dinilai oleh dewan juri ahli yang terdiri dari Anak Agung Gede Agung Rama Putra, I Kadek Sumariyasa, S.Sn, I Wayan Juliarta, serta Andre Prawiradisastra.
Puncak ketegangan berakhir saat pengumuman pemenang dibacakan di tengah riuhnya suasana Mandalaloka. Sekaa Teruna Yowana Pratyaksa dari Banjar Bualu berhasil keluar sebagai Juara Pertama dengan karya bertajuk "Roga Sanggara Bumi". Tak hanya memikat hati juri, Banjar Bualu juga sukses menyabet gelar Juara Favorit Pilihan Pengunjung. Sementara itu, posisi Juara Kedua diraih oleh ST Setya Budhi (Banjar Ubung) dengan karya "Pragola Mayuda Pralaya", dan Juara Ketiga jatuh kepada ST Widya Dharma (Banjar Tengah) dengan judul "Asuri Bava".
Tak hanya fokus pada aspek seni dan budaya, Festival Ogoh-Ogoh tahun ini juga menyentuh pilar ekonomi kerakyatan. Melalui program "My Melali GWK Market" yang berlangsung pada 21-23 Maret 2026, GWK merangkul UMKM dan brand lokal untuk memasarkan produk unggulan mereka. Inisiatif ini merupakan langkah konkret pemberdayaan ekonomi masyarakat di sela-sela perayaan budaya, memberikan dampak positif yang lebih luas bagi warga sekitar Kuta Selatan.
Menutup rangkaian acara dengan penuh keceriaan, penampilan dari Pemoeda Soeka Karaoke berhasil mencairkan suasana dan mengajak pengunjung berinteraksi dalam hiburan yang hangat. Perpaduan antara ketegangan kompetisi, kesakralan tradisi, dan kemeriahan hiburan modern membuat Festival Ogoh-Ogoh GWK 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang hadir. Acara ini sekali lagi membuktikan bahwa tradisi Bali akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan dan dicintai di masa depan. (M-001)










