Sutjidra pun mengungkapkan, dengan penambahan ruang kelas baru, kelas VIII dan IX yang memerlukan perhatian khusus semuanya bisa belajar di pagi hari. Ada beberapa yang di kelas VII yang sekolah siang. Seluruh pembiayaan untuk empat ruang kelas baru yang dijanjikan pada 2027 tersebut akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Buleleng.”Sementara untuk pembangunan toilet dan wantilan juga menggunakan dana APBD," ungkap dia.
Tidak hanya fokus pada SMP Negeri 6 Tejakula, dirinya juga menyatakan komitmen yang sama untuk sekolah-sekolah di daerah pinggiran dan perbatasan. Seperti yang ia saksikan sebelumnya di SD Negeri 4 Sembiran, yang terletak di ujung perbatasan dengan Kabupaten Bangli.”Itu juga komitmen kami, tadi melihat keadaan sekolah yang sangat memprihatinkan tapi sudah direvitalisasi. Yang nantinya kita akan menata lingkungannya saja,”kata Sutjidra.
Penataan lingkungan sekolah, menurut Sutjidra, adalah langkah final untuk menciptakan ekosistem belajar yang ideal. Ia meyakini, setelah lingkungan tertata baik, suasana belajar mengajar akan menjadi lebih kondusif.”Anak-anak bisa lebih tenang, orang tua juga lebih tenang untuk menitipkan anaknya untuk bisa mendapatkan pendidikan, khususnya di SD Nomor 4 Sembiran ini. Karena itu perbatasan sekali, jauh dari mana-mana,”pungkas Bupati Sutjidra.
Kunjungan ini menjadi penanda bahwa pembangunan pendidikan di Buleleng tidak hanya berpusat di kota, tetapi merata hingga ke pelosok dan perbatasan. Dengan harapan menciptakan kesetaraan akses dan kualitas pendidikan bagi seluruh anak Buleleng. @gus










