Ia justru mencoba memperjuangkan hidup dibidang pariwisata, sebagai guide. Profesi itu pun tak lama, karena ia sebagai wartawan freelend di media pariwisata di Bali Travel News, kelompok Media Bali Post.
Setelah pertanyaan tentang keberlanjutan Sanggar Kukuruyuk yang didirikan ayahnya, Made Taro sering kali disampaikan oleh beberapa pihak di tengah usia Made Taro mulai uzur, Tarmada hadir perlahan membantu beberapa peran dari ayahnya.
Memang baginya hal ini bukanlah hal yang mudah. “Namun, tekadnya begitu kuat. Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelami dunia permainan anak-anak dan mendongeng,” kata Wahyudita.
Ia mengaku, dirinya mengenal Made Tarmada sejak tahun 2014, saat Rare Bali Festival (RBF) yang pertama. Hubungan secara intens kembali terjalin satu tahun terakhir ini.
“Satu hal yang tidak pernah saya lupakan dari sosok Tarmada, adalah setiap apa yang dia lakukan tidak pernah memikirkan honor. Dia melakukan dengan tulus iklas,” kenangnya.
Sebut saja, ketika bersama-sama dalam mensukseskan RBF 2024. Wahyudita benar-benar merasakan kegigihan Made Tarmada bersama ayahnya memperjuangkan kehidupan dunia permainan anak. Pada saat RBF itu, Tarmada menjadi garda terdepan untuk menyukseskan kegiatan ini.
Termasuk pada saat shooting pembuatan video tutorial bermain permainan tradisional, menjadi juri, hingga mengurusi anak-anak sebagai peserta festival.
Satu karya yang dia berhasil wujudkan atas dukungan ayahnya, yaitu karya 'pompongan' sebuah plalianan untuk anak-anak disabilitas. “Saya cukup lega dengan hadirnya Tarmada sebagai pewaris yang mau melanjutkan Sanggar Kukuruyuk itu, namun kenyataan seperti ini,” sebutnya.
Tarmada dengan kreativitasnya, mampu bahkan berhasil menjaga dan mengembangkan Sanggar Kukuruyuk, termasuk permainan rakyat dan dongeng. Sanggar itu sebagai wadah dalam upaya melestarikan kebudayaan permainan rakyat Bali.










