Saat yudisium pun, Susila datang seorang diri tanpa orangtua atau kerabat. Dia merasa bersyukur dikelilingi orang baik yang sigap membantu mendorong kursi rodanya.
Selain kebanggan bagi diri sendiri dan keluarga, secara tidak langsung Susila ingin memotivasi generasi muda agar terap menjaga asa menggapai cita-citanya. "Tidak ada yang bisa membatasi niat. Sekalipun seperti saya yang hidup di atas kursi roda," kata Susila.
Pujian pun datang dari Wakil Dekan Fakultas Pendidikan Unhi Dr. WA Sindhu Gitananda, SS., M.Hum., saat membacakan nama-nama yudisiawan/i. Menurut Sindhu, Susila adalah orang hebat karena sudah menjadi guru sebelum menggenggam sarjana pendidikan.
Hal ini juga, lanjut Sindhu, membuktikan bahwa Unhi adalah perguruan tinggi inklusif yang memberikan kesempatan yang sama bagi siapa saja yang ingin mengaktualisasikan dirinya.
Selain Susila, hal menarik pada Yudisium Fakultas Pendidikan Unhi kali ini dicatatkan oleh I Wayan Suasta sebagai lulusan tertua (63 tahun) pada Program Studi Magister Pendidikan Agama Hindu. Tak main-main, Suasta menyandang predikat kelulusan Cum Laude dengan IPK 3,93.
Sementara lulusan termuda (24 tahun) untuk Program Studi Magister Pendidikan Agama Hindu disandang Maya Ayuning Ati dengan IPK 3,80 Predikat Kelulusan Cum Laude.
IPK tertinggi (3,94) Program Sarjana (S1) diraih Ni Putu Asri Suryati dari Pendidikan Agama Hindu, Predikat Cum Laude. Sedangkan dari Program Magister (S2) atas nama Gusti Agung Ayu Made Seniwati dari Magister Pendidikan Agama Hindu, mencatatkan IPK 3,98.










