Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kemacetan harus segera ditangani karena berpotensi mempengaruhi keberlanjutan ekosistem pariwisata Bali. Namun, ia mengingatkan agar pengembangan trem tetap memperhatikan karakter, kenyamanan, estetika, serta kearifan lokal Bali. Koster juga meminta adanya sosialisasi masif kepada masyarakat dan pelaku usaha, khususnya pemilik hotel di sepanjang koridor, agar konsep trem diposisikan sebagai peluang baru yang memperkuat daya tarik kawasan.
Dari sisi teknis, Direktur KAI Bobby Rasyidin memaparkan sistem trem akan menggunakan jalur tunggal (Single Track) dengan jalur ganda pada terminus dan titik persilangan. Di area bandara, jalur dirancang melayang (elevated), sementara sebagian besar trase lainnya berada di permukaan tanah. Guna menjaga kualitas visual kawasan pesisir, trem dirancang berbasis baterai dengan pengisian daya di depo, stasiun terminus, dan titik persilangan. Waktu tempuh Legian-Bandara diperkirakan 23 menit dan Canggu-Bandara sekitar 40 menit.
Dalam implementasinya, KAI membutuhkan dukungan pemda untuk pembebasan lahan, penyediaan lahan depo, penguatan pesisir, akses trase bandara, hingga perizinan. Desain teknis proyek ini juga memerlukan pendampingan dari DIrektorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Acara ini turut dihadiri perwakilan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Dirut Jamkrida Bali Mandara, Kelompok Ahli Gubernur, dan pimpinan OPD Bali, Sekda IB. Surya Suamba, Kabag Kerja Sama Setda Badung I Made Dedy Sandrawan, dan Sekdis Perhubungan I Made Gede Wiryantara Adi Susandi.W-004










