Lebih lanjut, ia menyoroti pergeseran struktur ekonomi Bali yang telah terjadi sejak tahun 1980-an, ketika sektor pariwisata mulai berkembang pesat dan menggantikan dominasi sektor pertanian.
Meskipun sektor pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Bali, ia menilai bahwa sektor tersebut belum mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor pertanian.
Hal ini karena adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan pasar pariwisata dengan ketersediaan produk pertanian lokal.
Kondisi ini, menurutnya, menyebabkan sektor pertanian harus bersaing ketat dengan sektor pariwisata dalam merebutkan sumber daya alam.
Prof. Agung Suryawan menekankan bahwa untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, perlu adanya pengembangan sektor industri pengolahan berbasis produk pertanian, atau yang dikenal dengan agroindustri.
Pengembangan agroindustri, menurutnya, dapat menjembatani antara sektor pertanian dengan sektor pariwisata melalui penyediaan produk olahan pertanian yang berkualitas dan memiliki nilai tambah.
Produk-produk agroindustri ini, selain dapat memenuhi kebutuhan pariwisata, juga berpotensi untuk diekspor dan dapat menggantikan produk impor yang selama ini banyak digunakan di sektor pariwisata, seperti wine, minuman beralkohol, dan keju.
Ia melanjutkan, bagaimana agroindustri juga bisa memberikan kontribusi positif dalam sektor wisata, dengan mengembangkan agrowisata dan wisata gastronomi. Ia memberi contoh agrowisata coklat, kopi luwak, dan buah jeruk yang dapat menarik wisatawan.










