Cerita inspiratif ini menarik perhatian dan akhirnya digarap oleh sutradara George Arif bersama agensi kreatifnya, Jeruk Bali. “Secara organik selama beberapa tahun, saya diberi berkah untuk terlibat dalam beberapa film dokumenter tentang menjadi inklusif, tentang kawan difabel. Menarik. Cukup lama saya mengobservasi bagaimana belum siapnya kita menerima kawan-kawan ini. Apalagi kawan yang terlihat “berbeda” secara kasat mata, seperti teman dalam spektrum autisme atau teman dengan hydrocephalus misalnya. Saat saya dihubungi oleh Dr. Deibby Mamahit tentang film Joshua Tree, saya meresponnya dengan senang hati. Mengapa tidak? Kita bisa membuat film dengan penceritaan sinematik tentang ini”, ujar George. Film ini diproduksi selama 2 tahun, dengan footage yang kebanyakan terdiri atas rekaman online meeting dan kamera telepon genggam, serta sebagian footage diproduksi secara proper dengan kamera sinema. Bukan proses yang mudah, karena saat pasca produksi kita berenang dalam lautan rekaman online meeting yang puluhan jam dan kamera yang gelap terang bergoyang-goyang karena tidak dioperasikan oleh kru profesional. Namun, kedekatan personal ibu, kakak dan pengasuh Joshua akan jauh lebih berpengaruh pada kekuatan isi dan cerita, ketimbang kecanggihan kru profesional.
Proyek kasih sayang ini juga akan lanjut diputar di berbagai kota di Indonesia serta di negara lainnya, dan harapannya lokasi pemutaran dapat bertambah agar merangkul lebih banyak orang untuk melihat bahwa ada potensi luar biasa dalam individu autistik. Harapannya, Joshua Tree juga bisa menjadi inspirasi untuk setiap orang yang sedang mendampingi orang tersayang dengan autisme agar tidak berputus asa dan terus bersemangat dalam menjalani hari-harinya.










