Saat pandemi Covid 19, orangtua Joshua memiliki ide untuk membuat film tentang anak remaja laki-laki mereka yang mengalami autisme berat dan kemajuan luar biasanya selama enam bulan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kepekaan dan kesadaran bahwa orangtua dan pendamping anak-anak dengan autisme berat seringkali merasa putus asa saat orang yang mereka sayangi tersebut tumbuh ke masa remaja dan dewasa. Melalui film dokumenter ini, mereka berharap untuk menunjukkan bahwa dengan lingkungan, asupan nutrisi, aktivitas fisik, dan pola pikir orang di sekitarnya yang tepat, sangat mungkin untuk membawa perubahan menakjubkan dalam hidup individu autistik
Dr. Deibby Mamahit, ibu dari Joshua mengatakan “Joshua Tree adalah suatu pesan mengenai cinta dan pengharapan. Bahwa individu dengan Autisme bisa terus berkembang dan belajar. Jangan pernah menyerah. Nikmati mereka dan keistimewaan yang mereka punya”. Manusia adalah bagian dari alam dan dapat dimetaforakan sebagai pohon. Seorang anak dalam spektrum autisme sangat memerlukan keluarganya. Sutradara melihat bahwa keluarga Joshua adalah inti dari semua ini, pohon tempat Joshua berpegang, berlindung, merasa aman dan berjalan terus menjalani hidupnya, atau dalam kata lain, keluarga adalah Joshua Tree. Dr. Deibby Mamahit juga merupakan bagian dari Golden Collaboration, suatu segitiga kolaborasi bersama Gerd Winkler dan Rita Gendelman yang membantu keluarga dengan autisme lewat metode mereka yang unik dan efektif. Dr Deibby Mamahit merupakan sosok orang Indonesia yang luar biasa. Beliau mendalami kedokteran di Universitas Indonesia. Setelah itu beliau ke Singapura dan mendalami kedokteran emergency di National University Hospital di Singapura. Setelah kedua putranya mengalami berbagai kesulitan berkomunikasi, kesulitan berinteraksi dan terdiagnosa dengan autisma, beliau berkeliling dunia untuk mempelajari seluk beluk autisme dari berbagai ahli dari penjuru dunia. Saat ini beliau memiliki praktek pribadi khusus untuk anak berkebutuhan khusus di Singapura.










