Family Bisnis vs Apoptosis Manajemen

IMG-20250414-WA0000
Dr. AA. Ngr. Eddy Supriyadianta Gorda.

Dalam banyak kasus, kemunduran sebuah bisnis keluarga bukan karena kurangnya modal atau inovasi yang stagnan, tetapi lebih karena kesalahan dalam suksesi kepemimpinan. 

Pewaris yang kurang berkompeten, sering kali terpilih hanya berdasarkan hubungan darah, bukan berdasarkan kemampuan atau keahlian manajerial yang mumpuni. 

Hal ini memunculkan konflik internal yang sering kali mengganggu kestabilan perusahaan. Lebih jauh lagi, ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman atau resistensi terhadap profesionalisasi menjadi bom waktu yang perlahan menghancurkan fondasi yang telah dibangun dengan susah payah.

Fakta ini terungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review, yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 30% perusahaan keluarga yang berhasil bertahan hingga generasi kedua. 

Lebih mengejutkan lagi, angka ini terus menurun pada generasi-generasi berikutnya. Peningkatan jumlah perusahaan yang gagal bertahan di tengah regenerasi ini menjadi bukti bahwa model warisan keluarga yang kental, tanpa penyesuaian terhadap kebutuhan pasar atau standar profesional yang lebih tinggi, sering kali justru menjadi beban bagi kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri.

Dilema yang tak mudah diselesaikan: apakah bisnis keluarga seharusnya terus dipertahankan sebagai warisan, ataukah waktunya untuk menyerahkan tongkat estafet kepada para profesional yang lebih siap? 

Sebuah pertanyaan yang tak hanya menggugah, tetapi juga memaksa kita untuk berpikir lebih dalam mengenai konsep kekeluargaan dalam dunia bisnis yang semakin dinamis dan kompetitif.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top