Germ Cell didirikan oleh Kai Suteja, penyintas kanker yang dua kali berhasil melawan penyakit tersebut, sebagai cara untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi aksi bersama. Berawal dari komunitas kebugaran Bali, inisiatif ini kini tumbuh menjadi acara penggalangan dana tinju tahunan yang menghubungkan petarung, gym, pelaku usaha, dan pendukung lokal dengan riset kanker di balik pulau ini.
Hubungan personal itu juga tercermin pada para petarung yang naik ring. Anatoli dari Lions MMA kehilangan bibinya akibat kanker darah saat masih kecil, pengalaman tersebut yang turut mengantarkannya ke dunia tinju; tahun ini, ia bertarung untuk mengenang sang bibi. Sementara itu, Jake dari The Block mendedikasikan pertandingannya untuk kedua orang tuanya, yang sama-sama telah berhasil melewati kanker. Kisah mereka menambah dimensi personal bagi upaya komunitas yang lebih luas di balik Fight For A Cure, tempat para petarung, gym, pelaku usaha, dan pendukung bersatu demi tujuan bersama.
“Bagi banyak orang yang terlibat dalam Fight For A Cure, kanker adalah sesuatu yang sangat personal. Banyak dari mereka yang pernah kehilangan orang terdekat, atau melihat orang yang mereka sayangi berjuang melawan kanker. Fight For A Cure menjadi salah satu cara untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berarti. Banyak petarung yang naik ring untuk mewakili mereka yang tidak bisa melakukannya sendiri. Menang atau kalah, kemenangan yang sebenarnya adalah dana yang berhasil kami kumpulkan untuk mendukung riset kanker. Dengan sains yang lebih baik, kita bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, dan saya rasa itu adalah sesuatu yang bisa didukung oleh semua orang,” ujar Founder Germ Cell, Kai Suteja.









