Dukungan Keluarga, Kunci Cegah Depresi pada Ibu Pascamelahirkan

IMG-20260721-WA0001
[ilustrasi foto]-Pengabdian Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Kuta Selatan, terkait skrining dan edukasi postpartum pada ibu hamil.

DENPASAR-fajarbali.com | KELAHIRAN seorang bayi hampir selalu disambut dengan kebahagiaan. Senyum keluarga, ucapan selamat, hingga berbagai persiapan menyambut anggota baru menjadi momen yang membahagiakan.

Namun, di balik kebahagiaan tersebut, tidak sedikit ibu yang menghadapi tekanan emosional yang berat setelah melahirkan. Sayangnya, kondisi ini sering kali luput dari perhatian karena masyarakat menganggap ibu baru pasti akan merasa bahagia.

Depresi pasca melahirkan (postpartum depression) merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat muncul dalam beberapa minggu hingga satu tahun setelah persalinan.

Berbeda dengan baby blues yang umumnya berlangsung singkat, depresi pasca melahirkan memiliki gejala yang lebih berat, seperti perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat dalam beraktivitas, mudah marah, sulit tidur meskipun bayi sedang tidur, merasa tidak berharga, hingga kesulitan menjalin kedekatan dengan bayinya.

Dalam kondisi tertentu, depresi bahkan dapat memunculkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya sehingga memerlukan penanganan segera.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar satu dari lima perempuan mengalami gangguan kesehatan mental pada masa kehamilan atau setelah melahirkan, dengan angka yang cenderung lebih tinggi di negara berkembang.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga memengaruhi tumbuh kembang anak, kualitas hubungan dalam keluarga, bahkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko depresi pasca melahirkan, seperti kelelahan akibat merawat bayi, perubahan hormon, masalah ekonomi, komplikasi persalinan, kurangnya pengalaman menjadi orang tua, hingga konflik dalam rumah tangga. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor pelindung yang paling kuat adalah dukungan keluarga.

Dukungan keluarga bukan sekadar membantu menggendong bayi atau menyiapkan makanan. Dukungan yang paling dibutuhkan ibu adalah kehadiran emosional.

BACA JUGA:  Komitmen Akselerasi Ketahanan Kesehatan Nasional, Bank Mandiri Layani 500 Warga Tabanan, Bali

Mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi, memberikan penghargaan atas usaha ibu, membantu mengambil keputusan, serta meyakinkan bahwa ia tidak menghadapi semuanya sendirian merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.

Suami memiliki peran yang sangat penting dalam masa nifas. Keterlibatan suami dalam merawat bayi, berbagi pekerjaan rumah tangga, menemani ibu saat kontrol kesehatan, serta memberikan perhatian dan apresiasi dapat mengurangi beban psikologis ibu secara signifikan.

Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memperoleh dukungan positif dari pasangan memiliki risiko lebih rendah mengalami depresi dibandingkan mereka yang merasa kurang mendapatkan perhatian.

Selain suami, orang tua, mertua, saudara, maupun kerabat juga memiliki kontribusi besar. Sayangnya, tidak semua bentuk bantuan memberikan dampak positif.

Kritik yang berlebihan, membandingkan ibu dengan orang lain, atau memaksakan cara mengasuh bayi justru dapat meningkatkan tekanan psikologis. Oleh karena itu, keluarga perlu memahami bahwa setiap ibu memiliki pengalaman yang berbeda dan membutuhkan empati, bukan penilaian.

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental ibu setelah melahirkan. Keluhan seperti "jangan cengeng", "semua ibu juga mengalaminya", atau "nanti juga sembuh sendiri" sebaiknya tidak lagi diucapkan. Sebaliknya, apabila ibu tampak terus-menerus sedih, kehilangan semangat, menarik diri dari lingkungan, atau menunjukkan perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, keluarga perlu segera mengajaknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pencegahan depresi pasca melahirkan sebaiknya dimulai sejak masa kehamilan. Edukasi mengenai perubahan emosional setelah persalinan perlu diberikan kepada ibu sekaligus kepada suami dan anggota keluarga lainnya.

Dengan memahami tanda-tanda awal depresi, keluarga dapat memberikan dukungan yang tepat dan membantu ibu memperoleh pertolongan sedini mungkin.

Tenaga kesehatan, khususnya bidan sebagai pendamping ibu sejak masa kehamilan hingga nifas, memiliki peran strategis dalam melakukan skrining kesehatan mental, memberikan konseling, serta melibatkan keluarga dalam setiap proses edukasi.

BACA JUGA:  Prima Medika Hospital Terapkan Langkah Pencegahan Transmisi Covid-19

Pendekatan yang berpusat pada keluarga akan meningkatkan keberhasilan upaya pencegahan depresi pasca melahirkan.

Pada akhirnya, merawat seorang ibu sama pentingnya dengan merawat bayi yang baru lahir. Bayi membutuhkan ASI, kasih sayang, dan perhatian, tetapi ibu juga membutuhkan dukungan, penghargaan, serta ruang untuk menyampaikan perasaannya.

Ketika keluarga hadir sebagai tempat yang aman dan penuh kasih, risiko depresi pasca melahirkan dapat ditekan, sehingga ibu dapat menjalani peran barunya dengan lebih sehat, percaya diri, dan bahagia.

Kelahiran seorang anak seharusnya menjadi awal kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Kebahagiaan itu akan semakin utuh ketika ibu tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Penulis: Dr. I Komang Lindayani, S.KM., M.Keb. (Dosen Poltekkes Kemenkes Denpasar Jurusan Kebidanan).

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top