Meski telah dinyatakan ada tambahan 8 warga Serokadan yang positif, namun karena belum dirilis secara resmi oleh Propinsi Bali sehingga adanya penambahan kasus di Bangli ini baru tercatat di Kasatgas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Bangli saja. “Penambahan 8 kasus positif itu, baru tercatat di Satgas Kabupaten saja. Sehingga total, sekarang telah menjadi 35 kasus. Dan itu, sudah kita laporkan juga Dinas Kesehatan Propinsi sehingga kita masih menunggu rilise resmi dari Propinsi,” ungkap Pejabat asal desa Demulih, Susut ini.
Sedangkan untuk hasil Swab kedua, sejatinya hari kemarin juga semestinya turun. Namun kata Dirgayusa, dari hasil swab pertama sudah bisa disimpulkan yang bersangkutan positif Covid-19 sehingga telah langsung dirujuk ke propinsi.
Lebih lanjut terkait banyaknya warga Serokadan yang terpapar Corona, disampaikan Dirgayusa, Bupati Bangli telah mengintruksikan semua jajaran, terutama BPBD untuk melakukan telahaan apa yang harus dilakukan di wilayah tersebut. “Istilah pak Kasatgas memungkinkan tidak dilakukan PSBB lokal khusus di banjar Serokadan. Ini masih dikaji. BPBD sekarang diberikan waktu melakukan telahaan tersebut dan semua anggota Satgas yang lain telah diperintahkan untuk bersiap untuk memfasilitasi apabila dilakukan PSBB lokal,” bebernya. Dimana dasar pertimbangan untuk menerapkan PSBB lokal itu, untuk bisa memutus rantai penyebarannya.
Selain itu, kajian tersebut dilakukan, mengingat sampai saat ini warga banjar Serokadan yang paling banyak terpapar Covid-19. “Awalnya, tercatat ada 4 warga Serokadan yang positif. Salah satunya, sudah melalui transmisi lokal. Sekarang dengan adanya penambahan delapan kasus transmisi lokal ini, sehingga total 12 kasus di Serokadan yang positif Covid-19,” jelasnya. Karena itu, penanganan kasus Covid-19 di Serokadan ini mendapat perhatian lebih supaya rantai penyebarannya segera bisa diputus. (arw)










