Dosen FKIK Universitas Warmadewa Raih Lulusan Terbaik Wisuda ke-177 Program Doktor Universitas Udayana

IMG-20260822-WA0037
Dr. dr. Pande Naya Kasih Permatananda, M.Biomed., mendapatkan ucapan selamat dari Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, ST., Ph.D., pada Wisuda ke-177 Universitas Udayana, Sabtu (22/8/2026) di Puspem Badung. [foto:dok]

MANGUPURA-fajarbali.com | Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Warmadewa (Unwar). Dr. dr. Pande Naya Kasih Permatananda, M.Biomed., yang merupakan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unwar, berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Wisuda ke-177, pada Program Doktor Universitas Udayana (Unud), bertempat Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Sabtu (22/8/2026).

dr. Pande Naya menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Doktor Ilmu Biomedis Unud dengan capaian akademik yang sangat membanggakan, yakni Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91 dengan masa studi hanya 6 semester.

Capaian tersebut menjadi bukti atas dedikasi, ketekunan, dan komitmennya dalam menempuh pendidikan doktoral, sekaligus menunjukkan kualitas akademik dosen FKIK Unwar dalam mengembangkan kompetensi dan keilmuan di bidang biomedis.

Sebagai seorang dosen, pencapaian ini diharapkan semakin memperkuat kontribusi dr. Pande Naya dalam mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya di bidang kedokteran dan ilmu biomedis.

Sebelumnya, dr. Pande Naya telah dinyatakan lulus pada Ujian Terbuka/Promosi Doktor pada 2 Juni 2026. Ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul disertasi “Pengaruh Ekstrak Etanol Tulsi (Ocimum tenuiflorum) terhadap Kadar Glukosa Darah, Malondialdehida, Superoksida Dismutase, Tumour Necrosis Factor-alpha, dan Kerusakan Hepar Tikus (Rattus norvegicus) Model Diabetes yang Diinduksi Streptozotosin”.

Diabetes melitus (DM) diketahui berasosiasi dengan progresivitas kerusakan hepar, yang dipengaruhi oleh hiperglikemia kronis, stres oksidatif, dan inflamasi.

Terapi standar DM seperti metformin belum secara optimal menargetkan jalur-jalur tersebut. Oleh karena itu, diperlukan agen alternatif berbasis bahan alam, seperti Ocimum tenuiflorum (Tulsi) yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan aktivitas antihiperglikemik, antioksidan, dan antiinflamasi, namun perannya dalam menghambat progresivitas kerusakan hepar pada model hewan diabetes masih belum jelas.

BACA JUGA:  Dua Putra Bali Terima Gelar Doktor Honoris Causa di India

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak etanol Tulsi terhadap kadar glukosa darah, malondialdehida (MDA), superoksida dismutase (SOD), tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), serta kerusakan hepar pada tikus diabetes.

Penelitian eksperimental murni pada tikus jantan usia 2–3 bulan dengan berat badan 200–300 gram yang diinduksi streptozotosin dosis 40 mg/kgBB selama 5 hari berturut-turut.

Tikus diabetes dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok P1 dan P2 yang mendapat ekstrak etanol Tulsi dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB, kelompok kontrol diabetes tanpa terapi (K1), dan kelompok kontrol awal diabetes (K2).

Kadar glukosa darah diukur dengan glucometri, sedangkan kadar MDA, SOD, dan TNF-α menggunakan metode ELISA. Kerusakan hepar dinilai berdasarkan persentase sel hepatosit yang mengalami degenerasi dan nekrosis pada preparat histopatologis.

Penelitian dr. Pande Naya menyimpulkan ekstrak etanol Tulsi berpotensi menghambat progresivitas kerusakan hepar pada tikus diabetes melalui penurunan hiperglikemia serta modulasi stres oksidatif dan inflamasi. [gde]

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top