”Mulai besok sudah dikerjakan lagi dengan Dinas PUTR agar segera aksesnya bisa dimanfaatkan masyarakat,”kata Sutjidra. Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan besok baru akan memungkinkan untuk lalu lintas sepeda motor. Akses untuk kendaraan roda empat diperkirakan masih membutuhkan waktu lebih lama mengingat kerusakan yang cukup parah dan panjang.
Menanggapi potensi ancaman serupa di sisa musim penghujan yang masih panjang, Bupati Sutjidra menyebutkan langkah pencegahan jangka menengah. Permasalahan utama disebutkannya adalah aliran air yang menyimpang.”Nanti itu akan ditangani dari atas. Sehingga nanti juga di daerah ini akan diperlebar,”jelasnya.
Pihaknya juga mengungkapkan bahwa pemerintah sudah berkomunikasi dengan pemilik lahan setempat untuk memanfaatkan lahannya guna mengalihkan aliran air.”Itu salah satu alternatifnya untuk mengantisipasi, memang airnya dari atas cukup besar,”kata Sutjidra.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Busungbiu, Nyoman Agus Tri Kartika Yuda, yang mendampingi Bupati, memberikan konteks lebih luas tentang dampak cuaca ekstrem di wilayahnya. Menurutnya, setidaknya ada 14 titik kejadian bencana terkait hujan deras di Kecamatan Busungbiu pada Kamis kemarin.
Mulai dari tanah longsor di Desa Sepang Klod yang sempat menutup jalan kabupaten, pohon dan tiang listrik tumbang di Desa Subuk, hingga longsor yang menimpa rumah warga di Pucaksari dan Titab. Akan tetapi, kerusakan terparah terjadi di jalur Batu Megaang ini.”Ini menjadi satu-satunya akses bagi warga Batu Megaang. Ada juga sekolah dasar di sana, SD Negeri 4 Titab, yang jumlah siswanya sekitar 25 orang,”papar dia.










