Kepala Bidang UMKM dan Kewirausahaan Diskop UKMP, I Made Wirya Santosa, menjelaskan bahwa keterbatasan ruang dan fasilitas membuat seleksi menjadi hal yang harus dilakukan.
“Banyaknya pelaku UMKM yang mendaftar menunjukkan antusiasme tinggi. Namun karena keterbatasan tempat, kami melakukan kurasi agar hanya yang benar-benar memenuhi kriteria yang bisa tampil,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kurasi bukan berarti mengecilkan kualitas produk UMKM yang tidak terpilih, tetapi sebagai upaya untuk menyeleksi produk dengan standar tertentu. Kriteria seleksi meliputi orisinalitas, kreativitas, dan penampilan produk, sedangkan untuk produk olahan pangan, penilaian hanya difokuskan pada rasa.
“Produk olahan pangan dengan tampilan dan inovasi bagus saja tidak cukup. Jika rasanya tidak sesuai dengan selera pasar, maka sulit bersaing,” tambah Wirya.
Wirya juga menekankan bahwa tujuan utama Badung UMKM Week bukan semata ajang pameran dan penjualan sesaat, tetapi sebagai media promosi dan penelusuran pasar jangka panjang.
“Kami ingin peserta UMKM tidak hanya berjualan sekali saat event, tetapi juga mampu menjalin koneksi bisnis berkelanjutan. Sudah ada beberapa UMKM yang sukses menjadi vendor supermarket bergengsi di Bali hingga memiliki pelanggan tetap di luar negeri setelah ikut Badung UMKM Week sebelumnya,” ungkapnya.W-004










