Momentum ini juga diwarnai keanekaragaman usia lulusan. Pada kategori wisudawan tertua, jenjang Sarjana dicapai oleh I Wayan Sutji, S.Pd. (S1 Pendidikan Agama Hindu) pada usia 76 tahun, Magister oleh I Putu Rai Artasedana, S.T., M.Sos. (S2 Ilmu Agama dan Kebudayaan) pada usia 55 tahun, dan Doktor oleh Dr. Anak Agung Gede Putra, SIP., MM (S3 Ilmu Agama dan Kebudayaan) pada usia 60 tahun.
Di sisi lain, kategori wisudawan termuda diraih oleh Ni Luh Putu Astrid Ardani, S.M. (S1 Manajemen) pada usia 21 tahun, I Nyoman Rini Tri Purwanti, S.Pd., M.Pd. (S2 Pendidikan Agama Hindu) pada usia 24 tahun, serta Dr. Ni Kadek Duwi Antari, S.T., M.AP., C.Eng. (S3 Ilmu Agama dan Kebudayaan) yang berhasil meraih gelar Doktor pada usia 28 tahun.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto, menegaskan pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong minat masyarakat terhadap berbagai program studi di perguruan tinggi, termasuk di kampus keagamaan.
Brian menilai UNHI memiliki karakteristik serta keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kampus lain, terlebih dengan posisinya yang strategis di Bali.
"Tadi berbagai laporan yang disampaikan Bapak Rektor menunjukkan kampus ini memiliki keunggulan yang sangat baik ya, yang tidak dimiliki kampus-kampus lain. Nah, harapannya dengan keunggulan dan kekhasannya, apalagi ini juga ada di Bali, ini pada akhirnya bisa menarik kembali minat adik-adik kita untuk berkuliah," ujarnya.
Mendiktisaintek juga mengapresiasi kontribusi UNHI yang dinilai memiliki peran strategis dalam mengembangkan pengetahuan berbasis kearifan lokal serta mencetak lulusan, termasuk melalui program S3 Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang akan berdampak pada pembinaan umat Hindu di seluruh wilayah Indonesia. [gde]










