Dewan Juri, Drs. I. Ketut Sudarsana mengatakan, lomba ini diikuti oleh 9 peserta merupakan perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali. Anak-anak yang ikut lomba telah memiliki kemampuan dalam nyurat aksara Bali dalam lontar.
Artinya, antusias anak-anak muda menulis aksara dan berbahasa Bali itu tumbuh, bahkan mengalami perkembangan. Hanya saja, begaimana kesinambungannya.
Sebab, masih banyak slogan-slogan dari anak-anak dan para guru yang menjalankan latihan menulis aksara Bali kalau akan mengikuti lomba. Mestinya, latihan ini dilakukan secara terus menerus.
Karena itu, Sudarsana mengusulkan di setiap desa adat mesti dibangun pasraman tentang penulisan aksara dan berbahasa Bali. Dengan begitu, akan terjadi perkembangan yang menyeluruh.










