Coop Coffee Gaungkan Inovasi Karbon, Pemanfaatan Pupuk Organik hingga Kemandirian Perempuan Petani Kopi Kintamani di ICBS 2026

IMG-202609080089
Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo (kanan) bersama petani perempuan kopi Desa Catur, Ni Wayan Srianti. (FB/Dartha)

MANGUPURA-fajarbali.com | Coop Coffee Indonesia gaungkan proyek penyerap karbon, penggunaan pupuk organik, hingga pemberdayaan perempuan petani kopi di Desa Catur dalam gelaran Indonesia Carbon and Biodiversity Summit (ICBS) yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada 8–9 September 2026. Langkah strategis ini mengusung komitmen bersama untuk menghasilkan kopi Kintamani yang unggul sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Masa depan industri kopi kini tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji dan nilai jual di pasar, melainkan juga keberlanjutan ekosistem pertaniannya.

Coop Coffee Foundation menekankan pentingnya menjaga kesuburan tanah, ketersediaan air, dan ketahanan vegetasi melalui pengelolaan limbah hayati. Penggunaan pupuk organik berbasis dedaunan, sisa buah, sayur, serta kotoran ternak dinilai menjadi kunci utama dalam mendukung kemampuan wilayah resapan karbon. Manfaat nyata dari pola pertanian ramah lingkungan ini dirasakan langsung oleh para petani di lapangan selama setahun terakhir.

Petani kopi asal Desa Catur, Ni Wayan Srianti (Ibu Ole), mengungkapkan bahwa pengalihan ke pola organik memberikan dampak positif yang signifikan terhadap hasil tanaman. “Hasilnya cukup bagus. Buah kopi menjadi lebih banyak dan lebat serta daun lebih hijau. Kualitas buah yang lebih tebal mempengaruhi berat, jadi hasil panennya lebih bagus,” ujarnya, Selasa (8/9).

Mandiri secara produksi, para petani meracik pupuk organik memanfaatkan sisa pengolahan kopi serta limbah ternak. Proses pembuatannya terbilang efisien dan praktis untuk diterapkan secara berkala. “Setelah dilakukan dekomposer, dalam waktu dua puluh satu hari pupuk sudah bisa digunakan,” kata Wayan Srianti seraya menyebutkan penerapan metode ini terbukti mendongkrak produktivitas Desa Catur hingga mampu menembus hasil panen sebanyak 3 ton biji kopi.

Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo, menegaskan keberhasilan pilar pertanian organik ini tidak lepas dari peran aktif kelompok tani perempuan yang menjadi motor penggerak. "Kepemimpinan perempuan petani memiliki posisi sentral dalam mengedukasi dan menyebarluaskan praktik ini. Kami akan terus mendorong kelompok tani perempuan agar mampu berkontribusi dan menjaga keberlanjutan pertanian organik,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Sambut Idul Fitri 2023 FIFGROUP Salurkan Bingkisan dan Bantuan Lebaran Untuk Anak Yatim, Janda Dhuafa, Masyarakat Sekitar dan Mitra

Melalui sinergi antara pemberdayaan masyarakat, inovasi pengelolaan limbah, dan pengurangan jejak karbon, Kopi Kintamani dari Desa Catur kini tampil sebagai percontohan komoditas hijau yang berdaya saing tinggi. Inisiatif yang dipaparkan dalam forum ICBS 2026 ini diharapkan mampu menginspirasi kawasan sentra kopi lainnya di Indonesia untuk menerapkan sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top