Kemudian mimpinya beralih dari dokter menjadi seorang pendidik, mengikuti jejak kedua orangtuanya, Drs. I Gusti Ketut Sinarjaya dan Dra. I Gusti Ayu Rai Suciati.
Keduanya berprofesi sebagai guru, meski ayahnya mengakhiri karir sebagai ASN di Dinas Pendidikan. Sri Jayantini dan saudari kembarnya sama-sama berprofesi sebagai dosen. Hanya adik lelaki bungsunya yang berprofesi sebagai dokter.
Sejak kecil hingga berkuliah di Prodi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana (Unud) tahun 1995, Sri Jayantini hobi mengajar dan berbicara di depan umum. Saking tertariknya pada dunia publik speaking, ia rutin menonton berita di tv.
Hasratnya menjadi pendidik/dosen tak pernah padam walau beberapa kali gagal menembus lowongan dosen di perguruan tinggi negeri terbesar di Bali, sampai akhirnya tahun 2004/2005 ia diterima sebagai dosen PNS Kopertis (sekarang LLDikti VIII), kemudian diperbantukan di Unmas Denpasar.
"Sebelum lolos tes CPNS di Kopertis, saya sempat kerja di salah satu perusahaan ritel terbesar di Bali," kenangnya.
Setelah mendapatkan pekerjaan sesuai hobinya, Sri Jayanti lebih bersemangat, hal ini dibuktikan dengan produktivitas serta meningkatkan kualifikasi pendidikan Magister (2008-2010) dan Doktor (2014-2017). Keilmuannya linier bidang linguistik. Semua ditempuhnya di Unud.
"Kebanggaan saya sebagai dosen adalah mengantar mahasiswa hingga sukses. Saya lebih memerankan diri sebagai motivator untuk membangun kepercayaan dirinya," tegas Sri Jayantini.
Berdasarkan pengalamannya, Sri Jayantini melihat mahasiswa sekarang lebih banyak yang ragu-ragu bahkan tidak berani menyuarakan pendapatnya. Padahal mahasiswa adalah kaum intelektual. Sebagai agen perubahan, mahasiswa wajib memiliki modal keberanian.










