Cerita Hidup Profesor Termuda Unmas

Sri

FOTO: Kepala LLDikti VIII Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU., menyerahkan SK pengangkatan jabatan fungsional guru besar dari Mendikbudristek kepada Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, SS., M.Hum.

 

DENPASAR – sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Sri Jayantini terus menebar senyum hingga lesung pipinya terpancar jelas. Sambil memperbaiki letak kaca matanya, Sri Jayantini membuka map berwarna putih. Isinya sepucuk surat.

Tentu bukan surat biasa. Surat itu datang dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) bernomor 48532/M/07/2023 tentang pengangkatan jabatan fungsional guru besar. Surat Keterangan yang diimpikan oleh setiap dosen.

Hari itu juga, Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, SS., M.Hum., resmi menyandang profesor. Sri Jayantini tercatat sebagai guru besar perempuan termuda di Universitas Mahasaraswati (Unmas Denpasar).

Pencapaian dosen Sastra Inggris ini hingga tiba di puncak pendakian jabatan akademik tertinggi, tentu tidak semudah membalikkan piring. Ada kerikil tajam, semak belukar dan tikungan curam yang mesti dilalui dengan komitmen.

"Saya maknai profesor sebagai wujud komitmen diri yang merepresentasikan kerja keras, tanggung jawab dan dedikasi sebagai dosen," kata Sri Jayantini, ditemui usai menerima SK Guru Besar di Kantor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) VIII, belum lama ini.

Sri 2

Akademisi kelahiran Petang, 15 Januari 1977 ini, membeberkan ilhwal perjalanan hidupnya. Sri Jayantini keci, bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun mimpinya itu dinilai jauh panggang dari api karena Sri Jayantini takut melihat darah.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top