Pendekatan ini sejalan dengan pesan Nofi, yang menegaskan pentingnya proses latihan yang konsisten dan bertahap. “Kalau kita tidak melatih tubuh secara bertahap, risiko cedera meningkat. Tubuh itu seperti karet. Kalau jarang digunakan, bisa putus ketika ditarik,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang hanya fokus pada kekuatan fisik tanpa memerhatikan kesiapan sistem saraf. “Kebugaran itu bukan cuma soal otot kuat, tapi juga sinergi antara saraf dan otot. Kalau salah satunya tidak siap, cedera pasti lebih mudah terjadi,” tegasnya. Pendekatan neurologis ini sejalan dengan prinsip kebugaran yang diajarkan di UNJ, di mana kesiapan sistem saraf menjadi bagian penting dalam mencegah cedera
DRI Clinic juga menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNJ untuk memperkuat integrasi teori dan praktik di bidang neurologi, kedokteran olahraga, dan rehabilitasi fisik. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas penerapan pendekatan neuro recovery di dunia akademik.
6. Kenali Tubuh, Hargai Proses Pemulihan
Acara ini juga menghadirkan para praktisi di bidang olahraga. Dari sisi pelatih kebugaran, Stenly Kusnin, Strategic Advisor Anytime Fitness, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelatih dan tenaga medis untuk memastikan proses pemulihan berlangsung aman.










