DRI Clinic menggunakan pendekatan berbasis data untuk memantau kemajuan terapi pasien. Alat diagnostik modern membantu mengukur kecepatan konduksi saraf, kekuatan otot, serta keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah perawatan. “Kami ingin semua prosesnya terukur. Pasien bisa lihat sendiri perbedaannya, bukan sekadar ‘merasa lebih baik’,” ujar Irca.
4. Pencegahan Cedera Dimulai dari Pemeriksaan Saraf
Menurut Irca, cedera bukan hanya masalah atlet. Pekerja kantoran, guru, bahkan ibu rumah tangga juga bisa mengalami gangguan saraf akibat posisi tubuh yang salah atau kebiasaan berulang. “Duduk delapan jam di depan laptop tanpa jeda bisa memengaruhi keseimbangan postur dan membuat saraf tertekan. Lama-lama, muncul nyeri punggung, bahu, atau kesemutan di tangan,” ujarnya.
Ia menganjurkan pemeriksaan saraf secara berkala, terutama bagi mereka yang aktif bergerak. “Pemeriksaan saraf bukan hanya untuk orang yang sakit. Ini bagian dari pencegahan. Kita bisa tahu sejak dini apakah ada ketidakseimbangan yang bisa memicu cedera,” katanya.
Hasil pemeriksaan ini juga menjadi dasar untuk menentukan terapi personal. “Kadang pasien bilang lututnya sakit, tapi setelah kami periksa, ternyata masalahnya di saraf pinggul. Jadi sumber nyerinya bukan di tempat yang terasa sakit,” tambah dr. Irca.
5. Pemulihan yang Baik Bukan Soal Cepat, Tapi Tepat
Banyak pasien ingin segera kembali beraktivitas begitu rasa sakit mereda. Namun, menurut dr. Irca, regenerasi saraf berjalan jauh
lebih lambat dibandingkan otot. “Kalau dipaksakan terlalu cepat, cedera bisa kambuh. Pemulihan itu bukan sprint, tapi maraton. Yang penting bukan cepat sembuh, tapi pulih dengan benar,” ujarnya










