Di sisi lain, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng, Gede Putra Aryana, memerinci penggunaan anggaran Rp 5,4 miliar tersebut. Pengadaan termasuk satu unit truk Arm Roll dan lima unit truk LHC (Lorry Hook Container), meskipun tiga unit LHC masih dalam proses pengiriman.
Truk-truk ini nantinya akan ditugaskan di 12 Transfer Depo yang tersebar di Buleleng, termasuk di Seririt, Kaliasem, dan Kota Singaraja. Selain truk, juga diserahkan alat berat bulldozer.”Mesin bulldozer ini kan gunanya untuk mendorong lembah yang masih ada miring-kemiringan itu sehingga nanti akses untuk masuk ke dalam itu lebih cepat,”terang Aryana.
Menyikapi dibukanya kembali akses buang sampah ke TPA, Aryana menegaskan bahwa hal itu diikuti dengan pengaturan jam operasional. Hari Senin sampai Kamis sampai pukul 12.00 WITA. Namun, ia menekankan bahwa solusi paling mendesak bukan hanya di hilir.”Sosialisasi dan edukasi yang paling urgen. Menyadarkan dan membangun budaya masyarakat untuk memilah sampah itu yang urgen,”tegas Aryana.
Ia berharap ke depan hanya sampah residu yang masuk ke TPA, sementara sampah organik dan plastik bisa dikelola di sumber melalui fasilitas seperti TPS 3R dan kerja sama dengan bank sampah (BSI).”Saat ini, terdapat 58 unit TPS 3R yang seharusnya berfungsi mengelola sampah di tingkat desa, meski beberapa di antaranya dinilai belum beroperasi maksimal,”tegasnya lagi.
Aryana juga menyebutkan adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan sejumlah desa terkait pengelolaan sampah, meski jumlah pastinya masih perlu dikonfirmasi ulang.”Dalam pengelolaan sampah nantinya kami akan lakukan perjanjian kerja yang akan dilakukan dengan semua desa yang ada di Kabupaten Buleleng dalam penanggulangan sampah,”ucapnya.










