Dari hasil seleksi tersebut, peserta terbaik menjalani pembinaan intensif sebelum ditetapkan sebagai wakil Kabupaten Buleleng di tingkat Provinsi Bali. Pada penyelenggaraan tahun ini, kontingen Buleleng diperkuat oleh siswa dari SMP Negeri 1 Sawan, SMP Negeri 6 Singaraja, dan SMP Satu Atap Negeri 1 Banjar yang total keseluruhan peserta berjumlah 31 orang.
Ia menjelaskan, seluruh atlet yang diturunkan merupakan siswa kelas VII dan VIII sesuai ketentuan perlombaan. Skema tersebut menjadi bagian dari strategi regenerasi agar pembinaan olahraga tradisional terus berlangsung secara berkelanjutan.
“Ke depan mekanisme pembinaan akan terus kami evaluasi dan sempurnakan agar prestasi Buleleng semakin meningkat. Ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap visi dan misi Bupati Buleleng dalam pelestarian budaya daerah,”kata Ariston.
Ia juga mengajak para pelajar untuk kembali mencintai permainan tradisional sebagai warisan budaya yang mampu membentuk karakter generasi muda.
“Permainan tradisional melibatkan kemampuan motorik, strategi, sportivitas, dan tanggung jawab. Di tengah perkembangan teknologi saat ini, permainan seperti ini menjadi alternatif yang baik agar anak-anak tidak hanya bergantung pada gawai. Mari kita hidupkan kembali permainan tradisional mulai dari sekolah hingga desa,”ajaknya.
Sementara itu, salah seorang Pembina Kontingen Jantra Tradisi Bali Kabupaten Buleleng, Putu Budiarta Mandala, mengatakan persiapan atlet telah dilakukan lebih dari satu bulan sebelum perlombaan. Khusus tim dari SMP Negeri 1 Sawan, latihan difokuskan pada penguatan strategi permainan serta peningkatan kondisi fisik melalui latihan di pantai selama dua pekan.










