Prof Suarka juga tak lupa menghimbau tiap kabupaten/Kota tidak perlu khawatir dengan kendala yang mungkin ditemui di lapangan seperti rasa takut salah saat menggunakan Bahasa Bali. “Bulan Bahasa ini, tidak perlu takut untuk berbahasa Bali. Jangan takut salah karena tidak akan ada yang menyalahkan. Kita semua sama-sama belajar disini, perlu pembiasaan diri apalagi ini baru pertama kali dilaksanakan. Saya yakin pasti bisa dan terbiasa. Diluar itu, saya bersyukur meski dalam keterbatasan semua kabupaten/kota punya komitmen yang sama. Saya juga punya keyakinan pelaksanaan ini meskipun yang pertama, tapi bukan yang terakhir,” tutur Prof Suarka yang dalam pelaksanaan kali ini sudah bergerak bersama tim sejak Bulan November 2018 lalu.
Bahasa Bali menurut Prof Suarka, tetap eksis dan ajeg dalam perjalanannya mulai dari jaman Bali kuno hingga di jaman modern seperti saat ini. “Kenapa demikian? Karena Bahasa Bali ini punya keunggulan selain Bahasa, juga ada aksara dan sastranya. Pun demikian Bahasa Bali juga punya fungsi integral dalam kehidupan sosial, budaya dan agama orang Bali. Yang dikhawatirkan menurut saya, bukan Bahasa Bali secara umum tapi bagaimana berbahasa Bali yang sesuai anggah-ungguh,” jelasnya. Optimisme dengan eksistensi Bahasa Bali menurut Suarka tak lepas dari ‘sifat’ Bahasa Bali yang terbuka terhadap kata-kata serapan asing sehingga dia senantiasa berkembang. “Ini disebut kruna mider, kata yang berlaku untuk semua tanpa peduli sor singgih,” tambahnya.
Terkait Bulan Bahasa Bali Februari mendatang, Prof Suarka menyebut gelaran tersebut jadi momentum luar biasa untuk melihat sejarah Bahasa Bali sehingga tidak terputus generasi, selalu ada pewarisan dan penerusan antar generasi. “Disana pentingnya Bulan Bahasa Bali menurut saya,” tandasnya.










