"Harapannya melalui lokakarya ini, Agent AI bisa membantu para petugas di bidang kebencanaan untuk lebih fokus pada operasi penanganan bencana, karena sistem informasi sudah dikelola dengan baik. Di tengah meningkatnya frekuensi kejadian hidrometeorologi dan kompleksitas risiko bencana, kemampuan mengelola informasi secara cepat dan akurat menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung keselamatan masyarakat," ujar Teja Bhusana, Kamis (01/10).
Pelatihan ini difokuskan pada tiga area prioritas tata kelola informasi kebencanaan di Bali. Pertama, penyederhanaan komunikasi risiko hidrometeorologi agar pesan peringatan dini dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami publik. Kedua, penguatan Bali Tsunami Early Warning System (BTEWS) guna mendistribusikan sinyal bahaya secara terstruktur dan efektif. Ketiga, penyusunan laporan situasi kebencanaan terkonsolidasi yang mengintegrasikan berbagai sumber laporan secara otomatis saat krisis berlangsung.
Pemanfaatan Agent AI dirancang untuk mencakup seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pra-bencana hingga pemulihan pascabencana. Direktur AI sekaligus Advisor BINAR Academy, Nur Rahmah, menegaskan bahwa penerapan teknologi ini akan melengkapi performa petugas di setiap siklus kedaruratan.
"Pemanfaatan Agent AI dapat dimulai sebelum bencana terjadi, misalnya untuk mengolah informasi risiko dan peringatan dini. Saat bencana, teknologi ini dapat membantu mempercepat distribusi informasi dan mendukung pengambilan keputusan. Sementara pada tahap pascabencana, Agent AI berpotensi membantu pemantauan dampak dan kerusakan," tutur Nur Rahmah.










