Gubernur Koster menekankan pentingnya nilai-nilai kebangsaan, gotong royong, dan keberpihakan kepada masyarakat sebagai fondasi dalam membangun generasi muda yang berkarakter, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Para pembicara mengulas bahwa Marhaenisme bukan sekadar konsep historis yang lahir pada masa perjuangan bangsa, melainkan sebuah gagasan yang tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. Nilai-nilai keadilan sosial, kemandirian, keberpihakan kepada rakyat, serta semangat membangun bangsa dinilai masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan teknologi, arus informasi yang begitu cepat, dan perubahan sosial yang terus berlangsung.
Diskusi juga mengangkat berbagai tantangan yang dihadapi Generasi Z, mulai dari derasnya arus digitalisasi, perubahan pola komunikasi, hingga pentingnya membangun budaya literasi dan berpikir kritis.
Para pembahas sepakat bahwa generasi muda perlu memiliki kemampuan menganalisis informasi secara objektif, membangun nalar yang kuat, serta berani menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Suasana diskusi berlangsung hangat, dinamis, dan penuh antusiasme. Ratusan peserta yang terdiri atas sivitas akademika Universitas Mahasaraswati Denpasar, serta para undangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) perguruan tinggi se-Bali, mengikuti jalannya kegiatan dengan penuh perhatian. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, menghadirkan berbagai pertanyaan kritis yang semakin memperkaya pembahasan mengenai nilai-nilai Marhaenisme dalam konteks kehidupan generasi muda saat ini.










