Banjir Dukungan, Karya Jurnalistik dan Sastra Jadi Pengganti Skripsi

IMG-20250820-WA0008
Temu Alumni dan Bedah Buku Tugas Akhir Mahasiswa yang digelar Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di Auditorium Redha Gunawan, Kampus UPMI Bali, Denpasar, Selasa (19/8/2025).

Winata juga menyatakan salut kepada mahasiswa UPMI Bali yang mau mengambil tugas akhir proyek inovatif jurnalistik sastrawi dengan membuat buku kumpulan berita kisah (feature). Dalam waktu enam bulan, mahasiswa yang bukan wartawan profesional, bisa merampungkan 14 berita kisah dengan topik tertentu.

“Wartawan yang bisa menulis feature berarti selevel di atas wartawan biasa. Jadi, ini luar biasa, mahasiswa bisa menghasilkan buku kumpulan feature. Mereka yang sudah menjadi wartawan selama belasan atau puluhan tahun pun belum tentu bisa menulis feature dengan baik,” kata Winata.

Namun, Winata memberikan catatan, menulis feature itu gampang-gampang susah. Sepintas terlihat gampang karena gaya penulisannya lebih bebas. “Harus tetap hati-hati agar tidak terjebak ke dalam opini yang dominan atau malah terlalu lebay karena banyak menggunakan kata-kata atau frasa berbau sastra,” kata Winata.

Artika juga mengapresiasi langkah UPMI Bali yang memberi ruang alternatif tugas akhir bagi mahasiswanya. Artika menilai kebijakan mengizinkan karya sastra atau jurnalistik sebagai tugas akhir pengganti skripsi dapat dimaknai sebagai upaya untuk menyejajarkan teks sastra atau karya imajinatif setara dengan karya tulis ilmiah.

Selama ini, ada semacam kastanisasi bahwa karya tulis ilmiah lebih tinggi nilainya daripada karya imajinatif. Padahal kemajuan umat manusia salah satunya ditentukan oleh daya imajinasi.

Sastrawan sekaligus wartawan senior Gde Aryantha Soethama yang menjadi pembimbing dan penguji mengaku bersedia membimbing dan menguji karena menilai program tugas akhir nonskripsi ini menarik dan konkret.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top