
Luhut menambahkan bahwa Bali Airshow merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Indonesia dan mitra strategis untuk menjalin kolaborasi dan kemitraan serta investasi.
“Investasi Indonesia di sektor penerbangan akan memastikan konektivitas yang lancar, mendorong perdagangan barang dan jasa, meningkatkan sektor penerbangan, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting, sebagai negara dengan signifikansi geopolitik strategis, kekuatan industri dirgantara akan menentukan kesiapan pertahanan Indonesia dalam menjaga kedaulatan nasional dan mempertahankan stabilitas regional," imbuhnya.
Upacara pembukaan pameran Bali Airshow dihadiri oleh hampir 1000 undangan, diantaranya termasuk pejabat pertahanan, Menteri, dan pemimpin industri dari lebih dari 20 negara, termasuk Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Timor Leste, Korea Selatan, Australia, India, Amerika Serikat, Jepang, Selandia Baru, Tiongkok, Papua Nugini, dan Turki.
Salah satu agenda penting dalam acara pembukaan kali ini juga ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LOI) Bali International Airshow antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi; Kementerian Perhubungan; Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Kementerian Pertahanan; PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney); Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dan PT Inaro Tujuh Belas.
Melalui LOI tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengusulkan pembentukan perjanjian kerja sama di antara para pemangku kepentingan terkait, yang akan memperkuat kolaborasi antara para pemain industri secara global, yang akan membantu Indonesia dalam kemajuan di bidang teknologi, inovasi, dan pariwisata.










