Apa Jadinya Jika Siswa Tak Nyaman Saat MPLS? Simak Penjelasan Akademisi Ini

Gung Eddy
Dr. AAN Eddy Supriyadinata Gorda

DENPASAR - fajarbali.com | Memasuki tahun ajaran baru 2025/2026, seluruh calon peserta didik tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK diwajibkan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan ini berlangsung serentak dari 21 hingga 25 Juli 2025, dengan berbagai program yang disusun masing-masing sekolah untuk memperkenalkan lingkungan belajar kepada peserta didik baru.

Pengamat pendidikan sekaligus Akademisi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Dr. A.A.N. Eddy Supriyadinata Gorda, menekankan bahwa MPLS jangan hanya dijadikan ajang seremonial atau formalitas belaka. Menurutnya, MPLS harus mampu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi peserta didik baru sebagai bekal menjalani proses pembelajaran selama tiga tahun ke depan.

“Kalau dalam perjalanan seseorang tidak merasa nyaman dengan lingkungan, berarti ada yang salah. Saya ibaratkan MPLS itu seperti masa pacaran antara siswa dan sekolah. Kalau tidak nyaman, ya jangan dilanjutkan,” ujarnya.

Gung Eddy, sapaannya, juga menyoroti bahwa pelaksanaan MPLS kerap kali tidak memberikan gambaran nyata tentang suasana dan sistem belajar di sekolah.

“Makanya saya katakan, MPLS atau ospek  apapun namanya harus bisa memberikan kesepahaman antara siswa, guru, pengelola, dan staf sekolah. Ini penting agar ke depan tujuan pendidikan menjadi satu kesatuan,” jelasnya.

Sebagai Ketua Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas), Gung Eddy membawahi dua sekolah yakni SMP Nasional Denpasar dan SMK Teknologi Nasional Denpasar. Dalam pelaksanaan MPLS ataupun proses penerimaan peserta didik baru di kedua sekolah itu, ia memberikan kewenangan penuh secara otonom kepada kepala sekolah masing-masing.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top