Terkait tingkat konsumsi susu di Indonesia tergolong masih rendah, salah satu faktor utama penyebabnya adalah tantangan distribusi di wilayah kepulauan Indonesia. Sebagai produk bernutrisi yang mudah rusak, susu membutuhkan sistem yang mampu menjaga kualitas dan keamanannya dari proses produksi hingga dikonsumsi.
“Di banyak wilayah, keterbatasan infrastruktur rantai dingin menjadi kendala utama, yang meningkatkan risiko penurunan mutu serta membatasi akses masyarakat terhadap produk susu yang aman. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal sering kali menghadapi ketimpangan akses terhadap pangan bergizi,” terangnya lagi.
Tantangan ini menjadi semakin relevan dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia, dimana susu menjadi salah satu komponen nya.
“Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk, tetapi juga pada kemampuan sistem distribusi untuk memastikan susu dapat disalurkan secara aman dan efisien ke seluruh wilayah. Tanpa dukungan pengemasan yang memadai, dampak gizi yang diharapkan dari program ini tidak akan tercapai secara optimal,” imbuhnya.
Kemasan aseptik menawarkan solusi praktis dengan memungkinkan distribusi susu tanpa memerlukan pendinginan, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi produk. Teknologi ini memungkinkan susu menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas dan terpencil, sehingga mendukung pemerataan akses gizi di seluruh Indonesia.
Hingga beberapa tahun terakhir, kebutuhan kemasan aseptik di Indonesia sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Dimulainya kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri pada 2024 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung ketahanan pangan jangka panjang.










