Anemia Defisiensi Besi, Penyebab Tubuh Mudah Lelah yang Perlu Diwaspadai

u10-IMG-20251121-WA0002
Foto: ilustrasi/ist.

Penggunaan obat seperti aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) juga dapat menyebabkan iritasi lambung yang menimbulkan perdarahan ringan tetapi berlangsung lama. Selain itu, kebutuhan zat besi meningkat pada masa pertumbuhan, remaja, dan kehamilan.

Bila peningkatan kebutuhan ini tidak diimbangi dengan asupan yang cukup, tubuh akhirnya mengalami kekurangan zat besi yang berujung pada anemia.

Gejala yang Sering Diabaikan

Anemia defisiensi besi berkembang perlahan, sehingga sering tidak disadari. Pada tahap awal, penderita mungkin hanya merasa cepat lelah. Namun, jika berlanjut, dapat timbul gejala seperti:

1. Wajah pucat dan bibir tampak keputihan.

2. Pusing, lemas, atau jantung berdebar.

3. Napas terasa pendek meski beraktivitas ringan.

4. Rambut rontok dan kuku rapuh, bahkan berbentuk cekung menyerupai sendok.

5. Konsentrasi menurun dan mudah mengantuk.

Pada anak-anak, anemia dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat dan kesulitan belajar. Bila tidak diobati, anemia berat dapat menurunkan daya tahan tubuh dan produktivitas secara signifikan.

Bagaimana Cara Menangani Anemia Defisiensi Besi?

Penatalaksanaan anemia defisiensi besi bertujuan untuk mengganti kekurangan zat besi serta mengatasi penyebabnya. Langkah pertama adalah pemberian suplemen zat besi, seperti ferrous sulfate, ferrous fumarate, atau ferrous gluconate.

Suplemen ini sebaiknya diminum saat perut kosong agar penyerapannya lebih optimal, walaupun kadang dapat menimbulkan keluhan seperti mual atau sembelit ringan.

Bila tubuh tidak mampu menyerap zat besi dengan baik atau anemia sudah tergolong berat, dokter dapat memberikan zat besi melalui infus. Cara ini dikenal dengan terapi zat besi intravena, yang bekerja lebih cepat dalam meningkatkan kadar hemoglobin dan cadangan zat besi tubuh.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top