Pembelajaran berlanjut dengan pengenalan perubahan daun kelapa dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat Bali, mulai dari busung, rempela, slepan, hingga danyuh. Dari sini, anak-anak diajak memahami konsep literasi budaya sekaligus literasi numerasi secara sederhana dan aplikatif.
Contohnya, dalam pembuatan segehan mebucu telu, anak-anak belajar dasar numerasi melalui pemahaman jumlah dan bentuk. Begitu pula saat membuat ceper, mereka dikenalkan konsep bujur empat. Anak-anak diberikan bahan berupa busung dan slepan untuk dirangkai menjadi ceper, sekaligus memahami fungsi masing-masing bagian, seperti busung untuk metanding canang, rempela untuk bahan segehan, slepan untuk membuat aled, dan danyuh sebagai obor.
Selain itu, peserta juga dilatih membuat tipat taluh dan mengikuti permainan tradisional Keranjang Duren sebagai penutup kegiatan.
Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya, mengatakan kegiatan Malajah Sambil Maplalianan merupakan program ramah anak yang telah dilaksanakan untuk kedua kalinya dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali.
“Tahun lalu kegiatan ini hanya bisa dilaksanakan tujuh kali. Tahun ini dilaksanakan setiap hari selama satu bulan penuh dengan melibatkan anak-anak dari berbagai sekolah dan menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi serta tokoh budaya,” ujarnya.
Menurut Dana Tenaya, manfaat kegiatan ini sangat besar karena anak-anak belajar budaya tidak hanya secara teori, tetapi langsung melalui praktik. “Mereka belajar sambil bermain, belajar sambil melakukan,” katanya.










