Kondisi serupa juga dialami Tagana yang bertugas di Swan Villa Keramas dan tempat karantina lainnya. “Relawan kami selalu berjaga setiap hari mengantarkan makanan ke depan kamar-kamar yang ditempati PMI,” ungkapnya. Jumlah relawan sebanyak 62, mereka menggunakan sistem piket untuk melakukan penjagaan ditempat karantina. Ia menekankan, jika situasi masih stabil, sektor pariwisata masih berjalan, dan even-even masih ada, kami sebagai relawan sangat bersenang hati untuk membantu. Bahkan kami mengeluarkan dana pribadi untuk ikut membantu. Seperti halnya ketika membantu warga terdampak erupsi Gunung Agung. “Anggota yang tergabung banyak yang bekerja di sektor informal, namun sekarang tidak banyak pilihan yang mereka bisa lakukan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga,” jelasnya lagi mewakili semua relawan Tagana.
Tagana sendiri dibentuk di bawah komando Kementerian Sosial dan di kabupaten di bawah Dinas Sosial. Diharapkan dari Dinas Sosial tempat mereka bernaung sebagai relawan, mendapat perhatian. “Kepada pejabat yang berwenang dalam hal ini mohon perhatiannya, kami yang bertugas di lapangan kami juga punya keluarga,” tutupnya.(gds).










