“Salah satu elemen paling krusial dalam mengelola konflik adalah kemampuan untuk mengelola ego dan emosi. Keduanya sering kali menjadi akar dari banyak permasalahan dalam organisasi. Ego yang terlalu besar dapat menghalangi individu untuk melihat sudut pandang orang lain, sementara emosi yang tidak terkendali dapat memperburuk situasi dan merusak hubungan antar anggota tim. Untuk mengatasi hal ini, penting bagi setiap individu dalam organisasi untuk mengadopsi sikap rendah hati. Rendah hati bukan berarti mengabaikan keahlian atau kontribusi seseorang, tetapi lebih kepada kesediaan untuk mendengarkan, belajar, dan mengakui bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang berharga untuk disumbangkan,” terangnya.
Dewa Putu Makapagal menegaskan, selain pengelolaan ego dan emosi, komunikasi yang efektif juga memegang peranan penting dalam mencapai konsensus. Sering kali, konflik terjadi bukan karena perbedaan pendapat itu sendiri, tetapi karena cara penyampaian pendapat yang kurang tepat. “Komunikasi yang buruk dapat menyebabkan salah paham, memperbesar perbedaan, dan memperburuk konflik. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu dalam organisasi untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang baik. Salah satu aspek penting dari komunikasi yang efektif adalah mendengarkan dengan empati. Mendengarkan dengan empati berarti berusaha memahami sudut pandang orang lain tanpa menghakimi atau menyela. Dengan cara ini, setiap pihak merasa dihargai dan didengar, yang pada akhirnya memudahkan tercapainya kesepakatan,” pungkasnya. (M-001)










