“Pengelolaan konflik dalam merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya bagi satu orang saja, namun semua pihak yang ikut berkomunikasi. Setiap individu pastinya memiliki tujuan dalam komunikasi yang sedang dilakukan dengan orang lain. Maka dari itu, sepatutnya untuk bertanggung jawab menjaga komunikasi yang baik tanpa menimbulkan konflik. Pengelolaan konflik diperlukan agar komunikasi yang berjalan bisa efektif dan tujuan komunikasi tercapai,” ujarnya.
Sementara itu, Pembicara sekaligus General Manager Solia Legian Bali Hotel, Dewa Putu Makapagal memaparkan, membangun jaringan hingga mengelola konflik itu lebih banyak diperlukan soft skill. Sebab, kalau di sekolah akan lebih banyak dibekali dengan pengembangan hard skill yang lebih fokus pada pencapaian prestasi, angka-angka atau indek prestasi.
“Berbeda kalau bicara tentang membangun hubungan, mengelola konflik hingga mengambil keputusan, maka akan lebih banyak bicara keahlian yang tidak kelihatan atau soft skill atau ilmu sosial. Contohnya, bagaimana membangun hubungan yang efektif dengan atasan, bisa mengetahui prioritas atasan, dan bagaimana bisa mengeksekusi target-target yang diberikan atasan tepat waktu dan tercapai. Termasuk pula cara untuk mengetahui style dan leadership atasan. Hal-hal tersebut hanya bisa didapatkan dari pengalaman personal,” jelasnya.
Dewa Putu Makapagal menyebutkan, dalam dunia hospitality, konflik adalah hal yang tak terhindarkan. Ketika individu dengan latar belakang, pandangan, dan kepribadian yang berbeda bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama, gesekan sering kali muncul. Namun, konflik bukanlah sesuatu yang selalu negatif. Dengan pengelolaan yang tepat, konflik dapat menjadi katalis untuk perubahan, inovasi, dan pertumbuhan.










