“Upaya kita tentu memperbaiki manajemen, kualitas SDM, supaya kita dijadikan partner oleh mereka. Kalau sudah begitu, adanya kolaborasi bukan hal yang tidak mungkin,” katanya seraya menegaskan, kebijakan pemerintah Indonesia tetap berpihak memberi keuntungan kepada perguruan tinggi lokal.
Masih kata Dasi, banyak benefit yang didapat dari kolaborasi dua perguruan tinggi itu, seperti mendatangkan pakar dari luar yang memiliki kecakapan ilmu pengetahuan langka, atau yang belum dimiliki Indonesia.
“Kita datangkan dosen-dosen yang andal itu untuk ikut mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia, seperti misalnya di ilmu kedokteran. Banyak problem yang kita harus tuntaskan, tentu akan melibatkan para ahli luar negeri. Ini kan jelas ada untung. Jangan dipandang dari segi negatif saja, tapi kita lihat apa untung yang kita dapat. Kita akui hal ini memang tidak bisa dibendung,” ungkapnya.
Dengan masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia, tambah Dasi, masyarakat seharusnya tidak menganggap itu sebagai ancaman. Justru hal itu menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas PT lokal.
Dasi Astawa berujar, di zaman globalisasi seperti ini, wajar saja jika berbagai perubahan akan terjadi. Tak terkecuali bidang pendidikan dan penelitian. Bahkan, hal itu akan memberi peluang bagi masyarakat Indonesia melanjutkan pendidikan ke lembaga milik luar negeri.
“Jangan sampai kita jadi paranoid. Kan masih untung kalau anak-anak kita masuk ke perguruan tinggi luar negeri. Hanya saja lokasinya di Indonesia. Bahkan lebih rugi lagi kalau orang Indonesia ke luar negeri, bisa capital flight (Peralihan modal). Mereka untung, warga negara kita menginap di sana, makan di sana, dan lain-lain,” pungkasnya bersemangat. (eka)










