Upeksa (kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam menjalankan tugas); Karuna (cinta kasih dan welas asih kepada pasien); Maitri (sikap persahabatan dan kedekatan emosional dengan pasien); dan Mudita (empati dan simpati terhadap penderitaan orang lain).
Nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting dalam membangun pelayanan kesehatan yang humanis, profesional, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya penerapan filosofi Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik, yang dipadukan dengan pemahaman tentang Karma Phala sebagai landasan etika pelayanan. Dengan demikian, setiap tenaga kesehatan didorong untuk memberikan pelayanan terbaik dengan kesadaran moral dan tanggung jawab spiritual.
Tidak hanya itu, konsep Aparamada atau kemampuan mengendalikan emosi dalam setiap situasi pelayanan juga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, maupun para pemangku kepentingan lainnya.
Salah satu kontribusi akademik utama dari penelitian ini adalah lahirnya konsep “Manajemen Negosiasi” atau “Manajemen Hybrid”, yaitu model manajemen yang mampu menyelaraskan prinsip-prinsip manajemen modern dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Hindu Bali.
Model ini diyakini dapat menjadi alternatif pendekatan dalam pengelolaan pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan, yang tidak hanya mengejar efektivitas dan efisiensi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, budaya, dan spiritualitas.










