DENPASAR-fajarbali.com | Puluhan jurnalis/awak media multi platform mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Climate Week 2026 di Denpasar, Jumat (11/9/2026).
Diskusi yang berlangsung empat jam itu berlangsung dialogis. Semua peserta diberi kesempatan yang sama menyampaikan pandangan, tantangan dan gagasan tentang langkah nyata namun berdampak bagi bumi. Langkah-labgkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hasil diskusi yang terungkap bahwa, iklim menjadi isu paling jarang dijamah oleh insan pers dengan berbagai alasan.
Seperti yang dikatakan jurnalis, H. Noris Saputra. Di media tempatnya bekerja, sejatinya memiliki kanal khusus menginformasikan isu lingkungan. Namun menemui berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan narasumber hingga pembiayaan.
"Selama ini isu lingkungan itu berbasis undangan. Itu pun pada agenda seremonial. Bukan terjun langsung menggali ke lapangan," ujarnya.
Communications Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Aisyah Madeleine, mengatakan persoalan perubahan iklim di Bali merupakan tantangan lintas sektor yang saling berkaitan. Kawasan perkotaan seperti Denpasar menghadapi persoalan yang tidak kalah kompleks, mulai dari banjir berulang, penumpukan sampah, kemacetan lalu lintas hingga semakin berkurangnya cadangan air tanah
Karena itu, kata dia, transisi menuju energi bersih serta efisiensi penggunaan sumber daya menjadi salah satu agenda penting dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca di Bali.
"Selain sektor energi, persoalan pengelolaan sampah juga menjadi perhatian. Praktik pengelolaan sampah yang belum optimal, termasuk pembuangan terbuka atau open dumping, berpotensi menghasilkan emisi metana dalam jumlah signifikan," jelas Aisyah.
Ancaman perubahan iklim, masih kata Aisiyah, juga berpotensi diperparah oleh penurunan muka tanah dan banjir rob. Kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi perekonomian Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Kerusakan lingkungan dan meningkatnya frekuensi bencana berpotensi mengganggu keberlanjutan destinasi wisata sekaligus kehidupan masyarakat yang bergantung pada aktivitas pariwisata.
Ia mengingatkan, dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan di Bali. Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah menjadi salah satu peringatan serius atas meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.
Hujan dengan intensitas tinggi yang memicu banjir secara luas menunjukkan pentingnya penguatan langkah mitigasi dan adaptasi. Upaya tersebut dinilai tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat.
FGD juga menyoroti pentingnya peran media dan jurnalis dalam mendorong aksi iklim di Bali. Media dinilai memiliki posisi strategis dalam meningkatkan pemahaman publik mengenai risiko perubahan iklim sekaligus mengawal kebijakan dan program penanganannya.
Sementara itu jurnalis, IGA. Adnyana, berharap para pemerhati lingkungan bekerja sama dengan akademi untuk menciptakan pertanian hemat air.
"Kalau saya amati, pohon padi di sawah itu pangkalnya terendam sampai kira-kira 5 cm. Busa enggak dibuatkan riset agar varietas padi kita cuma memerlukan tanah lembab. Sehingga hemat air," ungkap dia.
Selain itu, IGA Adnyana juga berharap pembuatan sumur injeksi semakin dimasifkan, sebagai upaya pengembalian air ke bawah tanah. [gde]










