PIB College Dorong Transformasi Pendidikan Vokasi melalui Education 5.0 dan Kolaborasi Industri

1001745183
Politeknik Internasional Bali (PIB College) menyelenggarakan International Seminar & Partner Engagement bertajuk “Strategi Optimalisasi Sumber Daya di Institusi Pendidikan Vokasi dengan tema Implementasi Education 5.0

TABANAN – Fajarbali. com | Politeknik Internasional Bali (PIB College) menyelenggarakan International Seminar dan Partner Engagement bertajuk “Strategi Optimalisasi Sumber Daya di Institusi Pendidikan Vokasi dengan tema Implementasi Education 5.0 untuk Menjembatani Kesenjangan Kognitif Digital dan Kesenjangan Kompetensi Industri”, pada Rabu (9/9/2026), di Dr. Frans Auditorium, PIB College, Tabanan Bali.

Seminar internasional ini mempertemukan perspektif pemerintah, akademisi, dan industri untuk membahas bagaimana pendidikan vokasi di Indonesia perlu bertransformasi menghadapi perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), perubahan kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan kompetensi industri yang semakin dinamis.

Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., Direktur Sumber Daya Ditjen DiktiKemdiktisaintek sebagai keynote speaker; Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN.Eng.,Kepala LLDIKTI Wilayah VIII; Robby Saputra, M.T.I., CPEC, VP Human Capital Development & SustainabilityInJourney; serta Dr. Paulus Herry Arianto, M.A., CBC, Wakil Direktur PIB College.

Seminar dimoderatori oleh Prof. Benny E. Tjahjono, B.Eng., M.Sc., Ph.D., Professor of Sustainability andSupply Chain Management, Coventry University, UK, dengan Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc.,Direktur Partnership & Event PIB College, sebagai host.

Direktur PIB College, Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati, B.A.E., M.S., M.M., M.Mis., M.H., D.Th., Ph.D.,D.Ag., membuka kegiatan melalui welcome remarks yang menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam membangun pendidikan vokasi yang semakin relevan dengan perkembangan industri.

Salah satu pembahasan utama seminar adalah dua tantangan yang masih dihadapi pendidikan vokasi, yaitu Digital Cognitive Gap dan Industry Competency Gap. Kesenjangan tersebut mencakup kesiapan dalam mengadopsi teknologi pembelajaran serta kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan aktual industri.

Menurut Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, implementasi Education 5.0 dalam pendidikan vokasimembutuhkan optimalisasi sumber daya manusia, kurikulum yang adaptif terhadap industri, kolaborasi lintas sektor, hingga evaluasi pendidikan yang tidak berhenti pada proses, tetapi berorientasi pada dampak.

BACA JUGA:  Musyawarah Anggota KOMPAK Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 2023

Kurikulum juga perlu diarahkan pada prinsip siap kerja dan siap usaha, dengan mengacu pada standarkompetensi nasional maupun global.

Transformasi tersebut turut menuntut peningkatan kompetensi dosen dalam pedagogi daring dan hybrid, teknologi pendidikan, Learning Management System (LMS), simulasi, serta metode pembelajaran interaktif.

Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani menyoroti perlunya perubahan orientasi institusi pendidikan vokasi. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar publikasi dan reputasi akademik, tetapi perlu bergerak menuju relevansi, employability, inovasi, impact, dan sustainability.

Transformasi tersebut mencakup penguatan talenta akademik, pembelajaran berbasis future skills, riset dan inovasi berdampak, hilirisasi, serta kemitraan internasional yang strategis. Pemanfaatan AI dan transformasi

digital juga menjadi bagian penting dalam membangun institusi yang data-driven, mulai dari proses pembelajaran dan riset hingga digital academic services, smart campus, tata kelola data, dan keamanan siber.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan perguruan tinggi vokasi tidak hanya terletak pada indikator akademik,tetapi juga pada kontribusi nyata yang dihasilkan bagi lulusan, masyarakat, industri, ekonomi, kebijakan, dan pembangunan nasional. Industri membutuhkan talenta yang siap menghadapi masa depan. 

Dari perspektif industri pariwisata, Robby Saputra dari InJourney menekankan bahwa membangun future-ready tourism talent membutuhkan proses pengembangan yang terstruktur dan berkelanjutan. Talent crisis,especially in tech-touch, the growing pressure on sustainability and the urgency untuk bisa memberikan value proposition yang berdampak menjadi focus integrasi kunci untuk membangun ekosistem serta pertumbuhan bisnis yang berkesinambungan.

Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui program profesional, leadership development, mentoring, sertifikasi, pengalaman global, serta experiential learning. Pada saat yang sama, human capital development perlu berjalan bersama prinsip sustainability dan employee wellbeing untuk mendukung pertumbuhan organisasi dalam jangka panjang.

BACA JUGA:  Implementasikan Teknologi Berbasis Digital dan Bioflok Budidaya Lele, Fokus Kelompok 3 KAT UNR

Bentuk kerja sama dapat dikembangkan melalui magang, guest lecture, sertifikasi, beasiswa, joint research, hingga keterlibatan mahasiswa dan institusi pendidikan secara langsung dalam ekosistem industri.

Prof. Benny E. Tjahjono dari Coventry University, UK, mengangkat kembali esensi pendidikan vokasi sebagai pendidikan yang berorientasi pada profesi dan keterampilan.

Pendidikan vokasi idealnya membekali mahasiswa bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga kompetensispesifik melalui project-based learning, magang industri, apprenticeship, dan entrepreneurship. Model tersebut perlu menjaga keseimbangan antara keterampilan praktik dan kemampuan kognitif, termasuk memahami konsep, mengikuti prosedur, melakukan troubleshooting, hingga mengambil keputusan.

Universitas akademik dan vokasi mempunyai kekuatan yang sama. Namun demikian, vokasi mempunyai ruang yang jauh lebih besar untuk diserap industri.

Ke depan, daya saing pendidikan vokasi juga ditentukan oleh keterlibatan industri, fasilitas pembelajaran yang menyerupai lingkungan kerja sebenarnya, sertifikasi kompetensi, penelitian dan inovasi, sustainability, teknologi digital, serta pemanfaatan AI.

Dalam seminar tersebut, Dr. Paulus Herry Arianto mengangkat tantangan yang lebih spesifik pada pendidikan hospitality, terutama kesenjangan antara pembelajaran di institusi pendidikan dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam operasional luxury hospitality.

Sebagai salah satu pendekatan untuk menjawab tantangan tersebut, PIB College mengembangkan Executive Management Program (EMP) dengan konsep Industry-Integrated Learning. Program ini menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman industri melalui model Learning, Experiencing, and Managing Hospitality.

Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai hospitality, tetapi memperoleh pengalaman melalui proyek supervisidan management trainee. Penilaian juga mencakup tanggung jawab nyata, interaksi profesional, kemampuan memecahkan masalah, serta performa di lingkungan hospitality.

Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana kolaborasi pendidikan dan industri dapat membawa lingkungankerja nyata menjadi bagian dari proses pendidikan, sehingga mahasiswa dipersiapkan tidak hanya untuk memasuki industri, tetapi juga berkembang menjadi pemimpin hospitality masa depan.

BACA JUGA:  Taruna-taruni SMK Penerbangan Cakra Nusantara Siap UNBK 2018

Masa Depan Pendidikan Vokasi International Seminar & Partner Engagement di PIB College memperlihatkan satu benang merah dariberbagai perspektif yang hadir: masa depan pendidikan vokasi membutuhkan hubungan yang semakin erat antara kampus, pemerintah, dan industri.

Education 5.0 bukan semata tentang memasukkan teknologi atau AI ke dalam ruang kelas. Transformasi pendidikan juga membutuhkan dosen yang adaptif, kurikulum yang bergerak bersama kebutuhan industri, pengalaman belajar yang semakin dekat dengan dunia kerja, pemanfaatan teknologi secara relevan, serta ukuran keberhasilan yang berorientasi pada dampak.

Melalui forum ini, PIB College memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan vokasi di Bali yang mendorong kolaborasi akademik dan industri, sekaligus membuka ruang dialog mengenai model pendidikan yang mampu mempersiapkan lulusan dengan kompetensi, pengalaman, kemampuan adaptasi, dan kepemimpinan yang relevan dengan masa depan dunia kerja.M-002

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top