BADUNG - fajarbali.com | Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Warmadewa menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PKM) berupa pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan cedera olahraga (Sports Injury) bagi anggota Klub Bulutangkis PB Meriah Bali di Lapangan Bulutangkis Sidharta, Kerobokan, Badung. Kegiatan yang dipimpin dr. Gde Candra Yogiswara, Sp.An-TI bersama dr. Ni Made Puspa Dewi Astawa, Sp.OT ini bertujuan meningkatkan kemampuan komunitas olahraga dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi darurat, sekaligus mengurangi risiko kematian maupun kecacatan akibat keterlambatan penanganan.
Pelatihan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kasus henti jantung mendadak dan cedera serius saat berolahraga. Berdasarkan hasil survei awal, sebagian besar anggota PB Meriah Bali maupun pengelola Lapangan Bulutangkis Sidharta belum pernah mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar maupun penanganan cedera olahraga, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas melalui edukasi dan praktik langsung.
Ketua pelaksana kegiatan, dr. Gde Candra Yogiswara, Sp.An-TI, mengatakan bahwa kemampuan memberikan pertolongan pertama merupakan keterampilan yang seharusnya dimiliki setiap komunitas olahraga.
“Kasus kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja saat aktivitas olahraga. Pada kondisi henti jantung, beberapa menit pertama merupakan periode yang sangat menentukan keselamatan korban. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui cara memberikan pertolongan pertama yang benar sebelum tenaga medis datang,” ujarnya.
Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari penyuluhan secara daring, Focus Group Discussion (FGD), hingga demonstrasi dan praktik langsung menggunakan manekin resusitasi. Peserta memperoleh materi mengenai pengenalan kegawatdaruratan medis saat olahraga, penanganan berbagai jenis cedera olahraga, serta teknik Bantuan Hidup Dasar yang benar.
Selain menerima materi, seluruh peserta mengikuti pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan setelah pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Peserta juga dinilai lebih percaya diri dalam melakukan tindakan pertolongan pertama apabila menghadapi kejadian darurat di lapangan.
Menurut dr. Gde Candra, meningkatnya tren masyarakat menjalani gaya hidup aktif harus diimbangi dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko medis yang mungkin terjadi selama berolahraga.
“Kami berharap setiap komunitas olahraga memiliki minimal beberapa anggota yang mampu melakukan Bantuan Hidup Dasar dan penanganan cedera sederhana. Semakin cepat pertolongan diberikan, semakin besar peluang korban untuk selamat dan pulih dengan baik,” katanya.
Selain keterampilan individu, tim pengabdian juga mendorong pengelola fasilitas olahraga untuk menyediakan perlengkapan pertolongan pertama yang memadai, seperti kotak P3K, panduan penanganan darurat, serta prosedur evakuasi apabila terjadi insiden di lapangan.
Pelaksanaan kegiatan mendapat sambutan positif dari peserta. Mereka menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan aktivitas olahraga sehari-hari dan berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan materi yang lebih komprehensif, termasuk penggunaan Automated External Defibrillator (AED).
Melalui program pengabdian ini, FKIK Universitas Warmadewa menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan masyarakat melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Edukasi mengenai Bantuan Hidup Dasar dan penanganan cedera olahraga diharapkan dapat membentuk komunitas olahraga yang lebih siap, tanggap, dan mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.









