Media Sosial dan Literasi Kesehatan Ibu Hamil: Antara Peluang dan Tantangan

IMG-20260727-WA0002
Dr. I Komang Lindayani, S.KM., M.Keb.

DENPASAR-fajarbali.com | Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan.

Bagi ibu hamil, media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, dan WhatsApp kini menjadi salah satu sumber utama untuk mencari informasi mengenai perkembangan janin, pola makan, aktivitas fisik, persiapan persalinan, hingga perawatan bayi.

Kemudahan akses tersebut memberikan peluang besar untuk meningkatkan literasi kesehatan, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa maraknya informasi yang tidak selalu akurat.

Literasi kesehatan adalah kemampuan seseorang untuk memperoleh, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan dalam mengambil keputusan yang tepat.

Pada masa kehamilan, literasi kesehatan menjadi sangat penting karena berhubungan dengan perilaku ibu, seperti kepatuhan melakukan pemeriksaan antenatal, konsumsi suplemen zat besi dan asam folat, pemenuhan gizi, mengenali tanda bahaya kehamilan, serta kesiapan menghadapi persalinan.

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang semakin besar dalam membentuk perilaku kesehatan ibu hamil.

Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2025 melaporkan bahwa sebagian besar ibu hamil di Amerika Serikat, Inggris, Eropa, dan Asia memanfaatkan media sosial untuk memperoleh informasi kesehatan dan dukungan emosional.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa media sosial mampu meningkatkan akses terhadap edukasi kesehatan dan memperkuat dukungan sosial, tetapi kualitas informasi yang beredar sangat bervariasi sehingga diperlukan kemampuan untuk memilah informasi yang berbasis bukti ilmiah.

Selain itu, sebuah systematic review yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menemukan bahwa tingkat literasi kesehatan ibu hamil masih beragam di berbagai negara.

Penelitian yang menganalisis 14 studi tersebut menunjukkan bahwa ibu hamil dengan literasi kesehatan yang rendah cenderung memiliki perilaku kesehatan yang kurang baik, seperti pola makan yang tidak sehat, kepatuhan yang rendah terhadap anjuran tenaga kesehatan, serta kurang memahami risiko selama kehamilan.

BACA JUGA:  Kader Posyandu Desa Getasan Dilatih Pijat Tui Na dan Stimulasi Oromotor untuk Cegah Stunting

Kajian tersebut juga menegaskan bahwa tenaga kesehatan tetap menjadi sumber informasi paling tepercaya bagi ibu hamil.
Media sosial juga memberikan manfaat psikologis.

Banyak ibu hamil merasa lebih percaya diri setelah bergabung dalam komunitas daring yang memungkinkan mereka berbagi pengalaman dengan ibu hamil lainnya.

Dukungan sosial ini dapat mengurangi rasa cemas, meningkatkan motivasi menjalani kehamilan sehat, dan memberikan rasa tidak sendirian ketika menghadapi perubahan fisik maupun emosional selama kehamilan.

Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal apabila informasi yang diterima berasal dari sumber yang kredibel.

Di sisi lain, media sosial memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan. Informasi yang tidak didukung bukti ilmiah dapat menyebarkan mitos mengenai kehamilan, penggunaan obat-obatan, suplemen, maupun pola makan yang tidak sesuai dengan rekomendasi medis.

Selain itu, paparan konten yang menampilkan gambaran kehamilan yang "sempurna" dapat memicu kecemasan, perbandingan sosial, bahkan ketidakpuasan terhadap kondisi diri sendiri.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan informasi yang tidak terverifikasi dan konten yang bersifat sensasional dapat meningkatkan kebingungan serta kecemasan ibu hamil dalam mengambil keputusan terkait kesehatannya.

Oleh karena itu, hubungan antara penggunaan media sosial dan literasi kesehatan ibu hamil tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering media sosial digunakan, tetapi juga oleh kualitas informasi yang diakses dan kemampuan ibu dalam mengevaluasi informasi tersebut.

Semakin baik kemampuan seseorang membedakan informasi yang valid dengan informasi yang menyesatkan, semakin besar manfaat media sosial terhadap peningkatan literasi kesehatan.

Untuk memperoleh manfaat yang maksimal, ibu hamil disarankan mengikuti akun resmi rumah sakit, organisasi profesi, kementerian kesehatan, atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi.

Informasi yang diperoleh dari media sosial sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan medis. Setiap informasi mengenai penggunaan obat, suplemen, tanda bahaya kehamilan, maupun tindakan medis tetap perlu dikonsultasikan kepada dokter atau bidan.

BACA JUGA:  FKG Unmas Denpasar Bikin Senyum Murid SDN 1 Menanga Merekah

Di sisi lain, tenaga kesehatan juga perlu memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Penyampaian informasi yang akurat, sederhana, menarik, dan mudah dipahami akan membantu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi penyebaran hoaks kesehatan.

Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, akademisi, dan media menjadi langkah penting dalam menciptakan ekosistem informasi digital yang aman bagi ibu hamil.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah ancaman maupun solusi tunggal bagi kesehatan ibu hamil. Media sosial adalah alat yang dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bijaksana.

Literasi kesehatan yang baik akan membantu ibu hamil menyaring informasi, mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah, serta menjaga kesehatan dirinya dan janin hingga proses persalinan berlangsung dengan aman.

Penulis: Dr. I Komang Lindayani, S.KM., M.Keb. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top