Ketika Jalan Pintas Dianggap Pantas, Seni Jadi Senjata Pamungkas

IMG-20260626-WA0019
Sekaa Taman Penasar Gambelan Sundaram, Duta Kota Denpasar, menyajikan "Ulah Aluh" di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (22/6), serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XXLVIII tahun 2026. [foto:gde]

DENPASAR-fajarbali.com | Berangkat dari rasa prihatin mendalam terhadap fenomena bunuh diri di Pulau Dewata, Sekaa Taman Penasar Gambelan Sundaram, Desa Ubung Kaja, Desa Adat Pohgading, Kecamatan Denpasar Utara, menyodorkan pesan menohok lewat garapan "Ulah Aluh".

Taman Penasar adalah bentuk kesenian tradisional Bali yang memadukan seni olah vokal (tembang pupuh), seni peran, dan diskusi atau debat yang diiringi musik instrumen geguntangan. Kesenian ini sarat akan pesan moral.

Tampil sebagai Duta Kota Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XXLVIII, Senin (22/6/2026), di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, Denpasar, sekaa seni yang didominasi anak muda ini sukses merebut hati penonton.

"Ulah Aluh" disesuaikan dengan tema PKB XXLVIII, yakni "Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha" yang bermakna Memuliakan Jiwa Paripurna. Tema ini menjadi ruang refleksi dan pelestarian seni budaya Bali sebagai sarana untuk menyucikan serta memurnikan jiwa manusia menuju kesempurnaan hidup.

Garapan tersebut dikoordinir Denny Saputra, bersama Adhi Santika sebagai penata drama, serta Ni Wayan Karti di bagian penata tembang. Iringan dikomandoi oleh Denny Saputra dan I Putu Dian Mahendra.

Ditemui usai pementasan, Denny Saputra, mengaku percaya bahwa seni pertunjukan masih relevan digunakan sebagai media sosialisasi. Termasuk kampanye kesehatan mental.

"Ulah Aluh", kata Denny Saputra, dipilih karena belakangan kasus bunuh diri atau "ulah pati" semakin sering dijumpai dan menjadi perhatian masyarakat. Sajian sengaja diselipi banyolan untuk mencairkan suasana, namun tidak keluar dari substansi: pesan moral yang ingin disampaikan ke penonton.

Sesekali para paembang, paneges, dan pangenter melontarkan celetukan yang mengundang tawa. "Ulah Aluh", sebuah istilah yang ditujukan kepada orang yang bertindak serampangan atau sembarangan dalam mengambil keputusan hidup.

BACA JUGA:  Luncurkan Kampanye #CapPandaTradisiIndonesia : Inisiatif Cap Panda Dalam Merayakan Tradisi Indonesia

Secara etimologis, lanjut Denny Saputra, "ulah" berarti mengusir atau menghalau, sedangkan "aluh" berarti mudah. Dengan demikian, "Ulah Aluh" dimaknai sebagai perilaku yang justru menjauhkan seseorang dari kemudahan sehingga kesulitanlah yang akhirnya diterima.

Kiki, tokoh sentral dalam pertunjukan ini, mengajak penonton menyelami pergulatan batin seseorang yang merasa hidupnya selalu terhimpit masalah dan tidak pernah lepas dari penderitaan.

Dalam keputusasaan, Kiki memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya karena menganggap kematian akan menuntaskan seluruh persoalan yang dihadapi.

Namun anggapan itu dipatahkan dalam alur cerita ketika istri dan keluarganya berusaha menghalangi niat tersebut serta menyadarkan bahwa bunuh diri bukanlah akhir dari masalah.

Dalam pandangan Hindu Bali, tindakan bunuh diri atau Ulah Pati digambarkan sebagai bentuk Ulah Aluh, yakni tindakan yang menjauhkan seseorang dari jalan kebaikan.

Perbuatan tersebut tidak hanya menyakiti diri sendiri, tetapi juga dianggap sebagai tindakan yang mencederai atma atau jiwa dalam diri manusia serta meninggalkan penderitaan bagi keluarga dan lingkungan yang ditinggalkan.

Bukan sembarang garapan. Ternyata "Ulah Aluh" disusun dengan merujuk berbagai sumber pustaka Hindu, antara lain Bhagavad-Gita, Parasara Dharmasastra, Sarasamuccaya, Arjuna Wiwaha, Taittiriya Upanishad, Manusmriti, hingga Lontar Atma Prasangsa.

"Ulah Aluh itu artinya tidak sembarangan kita untuk bunuh diri. Kenapa mengangkat tema ini? Karena akhir-akhir ini banyak yang melakukan ulah pati seperti di Tukad Bangkung,” ujar Denny Saputra.

Ia mengatakan garapan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Apalagi, pengaruh dunia maya dinilai turut memengaruhi munculnya fenomena tersebut karena tidak sedikit orang yang kemudian mengikuti tindakan serupa akibat konsumsi konten dan berita yang ada di media sosial.

BACA JUGA:  Tradisi Ngelawang Di Kala Pandemi Memberikan Hiburan dan Mengisi Waktu Bagi Seniman

Karena pengaruh media sosial (medsos) juga, banyak yang melakukan ulah pati jadi beberapa orang mengikuti. Jadi dengan mengangkat tema ini, pesannya untuk generasi muda agar tidak melakukan hal tersebut.

Untuk mempersiapkan penampilan di PKB XLVIII, Sekaa Taman Penasar Gambelan Sundaram menjalani latihan selama kurang lebih enam bulan. Proses latihan sempat mendapat jeda menjelang Hari Raya Galungan, namun persiapan tetap berjalan sesuai rencana.

Denny Saputra mengakui tantangan terbesar selama persiapan adalah mengatur waktu latihan para anggota sekaa yang memiliki kesibukan berbeda-beda. Sebagian masih berstatus pelajar, mahasiswa, hingga pekerja sehingga latihan baru bisa dilakukan pada malam hari.

Pernyataan Denny Saputra diamini oleh Psikolog Putu Arya Devyanda Sukma. Sukma berpandangan, daerah-daerah yang memiliki akar tradisi seni budaya yang kuat, sangat tepat menggunakan seni sebagai media kampanye.

Metode seni, lanjut lulusan Sarjana Psikologi Universitas Merdeka, Malang ini, mampu menyentuh jiwa karena ia menjembatani komunikasi emosi tanpa batasan bahasa. Melalui perpaduan warna, melodi, dan gerak, karya seni membangkitkan empati dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan langsung ke dalam lubuk hati.

Kata Sukma, penggunaan seni pertunjukan juga memiliki sejarah panjang di Bumi Nusantara. Misalnya saat masuknya Islam. Seni pertunjukan dijadikan momentum akulturasi budaya dan dakwah kultural.

Pendekatan ini membungkus pesan keagamaan dengan estetika lokal sehingga lebih mudah diterima masyarakat. Metode ini sukses digunakan oleh para tokoh agama untuk menarik simpati masyarakat.

Di era Orde Baru pun, menurut dia, pertunjukan seni wayang kulit dijadikan sosialisasi nilai-nilai kebangsaan. Hingga era Presiden Joko Widodo, untuk menekan angka stunting, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bali, sering menggunakan bondres sebagai alat sosialisasi. Ia memandang di era kekinian pun, perlu dikaji program "wayang goes to school" agar generasi muda tidak tercabut dari akar budayanya.

BACA JUGA:  Dari Balaganjur Hingga Trail Run, Pesta Budaya dan Sport Tourism Sambut HUT RI di Bali

"Tema PKB tahun ini sangat tepat dengan fenomena sosial beberapa tahun belakangan. Jadi ini semacam gotong royong. Selain upaya medis, pemerintah menyentuh sisi emosional masyarakat melalui seni. Kita diajak untuk menyucikan jiwa. Menghargai nyawa," ungkap Sukma.

Kasus bunuh diri, masih kata dia, perlu perhatian serius. Misalnya data tahun 2024, terdapat 95 kasus bunuh diri di Bali. "Ini sama dengan 3,07 persen populasi," kata Sukma memungkasi.

Dikonfirmasi terpisah, seniman sekaligus akademisi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali I Made Suarta, mengajak, masyarakat Bali kembali merefleksikan ajaran-ajaran lokal yang sarat makna. Seperti Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha dan Sad Kerthi.

Bali, menurut Suarta, memiliki warisan sastra berlimpah yang jika dipedomani, niscaya masyarakatnya hidup harmonis dengan alam dan sesama. "Mari kita kembali menjalankan pesan-pesan leluhur. Banyak pesan moral yang menuntun generasi berikutnya," ujarnya.

Apalagi pesan tentang larangan bunuh diri jamak dimuat dalam lontar. Tak hanya itu, pesan ekologis pun tidak luput diwariskan oleh leluhur Bali. Contohnya larangan menebang pohon di kawasan tertentu. Jika dilakukan desa itu akan hancur. "Kalau dimaknai, larangan ini merupakan pesan ekologis demi alam Bali yang berkelanjutan," pungkas Suarta. [gde]

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top