BBTF 2026 Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Pentahelix Jadi Kunci Pariwisata Berkualitas dan Bermartabat

DSC_0884
Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 resmi ditutup dengan membawa pesan kuat bagi masa depan kepariwisataan nasional.

MANGUPURA-fajarbali.com | Penyelenggaraan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 resmi ditutup dengan membawa pesan kuat bagi masa depan kepariwisataan nasional. Forum pariwisata internasional ke-12 yang berakhir pada 30 Mei 2026 di Nusa Dua ini menegaskan bahwa daya saing Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada strategi promosi masif. Lebih dari itu, keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada kualitas pengalaman wisatawan, kesiapan tata kelola destinasi, konektivitas, serta penguatan kolaborasi lintas sektor yang nyata.

Melalui semangat pariwisata berkualitas (quality tourism), konferensi pers penutupan BBTF 2026 berhasil menyatukan perspektif unsur pentahelix. Sinergi ini melibatkan jajaran pemerintah, pelaku industri, pengelola kawasan, sektor hospitality, lembaga keuangan, akademisi, hingga media massa. Keterlibatan aktif seluruh pihak ini dinilai krusial untuk menjawab tantangan riil di lapangan serta menangkap peluang pasar global yang kian dinamis dan selektif.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengingatkan bahwa kekuatan utama Pulau Dewata terletak pada kelestarian budaya, adat, spiritualitas, dan kehangatan kehidupan lokalnya. Namun, ia secara terbuka menekankan bahwa tantangan domestik seperti pengelolaan sampah, kemacetan lalu lintas, ketersediaan infrastruktur, pemenuhan energi, dan ketertiban usaha pariwisata harus segera diselesaikan secara kolektif. “Langkah tegas ini diperlukan agar pariwisata Bali dapat terus tumbuh secara bermartabat berbasis kebudayaan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Putu Surya Arysoma dari Ubud Hotel Association menyoroti pentingnya menyelaraskan penghargaan internasional dengan realitas fasilitas di lapangan. Sebagai pusat wisata budaya, gastronomi, dan kebugaran (wellness), Ubud dituntut memenuhi ekspektasi tinggi para pelancong mancanegara. “Kesiapan infrastruktur dasar seperti kualitas jalan, kenyamanan trotoar bagi pejalan kaki, stabilitas aliran listrik, hingga kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan,” ucapnya.

BACA JUGA:  Beragam Keseruan Merayakan Natal Dan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kuta

Pada segmen destinasi premium, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, memaparkan strategi perbaikan kawasan secara menyeluruh. Pihaknya kini tengah berfokus pada rejuvenasi fasilitas, penataan kabel bawah tanah, perbaikan jalur pedestrian, serta optimalisasi area publik. Melalui langkah tersebut, kawasan The Nusa Dua diposisikan sebagai model percontohan destinasi mewah yang sukses mengintegrasikan aspek kenyamanan dengan prinsip keberlanjutan (sustainability).

Dari sisi industri akomodasi, General Manager The Westin Resort Nusa Dua sekaligus perwakilan Marriott Bonvoy, Sanders Looijen, membuktikan bahwa kemewahan dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kebijakan pembatasan penggunaan plastik, manajemen pengelolaan limbah yang ketat, pemanfaatan produk lokal, serta kemitraan strategis dengan desa-desa wisata di Bali. “Langkah ini menegaskan bahwa sektor perhotelan mewah memiliki peran besar dalam program pemberdayaan komunitas sekitar,” jelasnya.

Sektor ekonomi pariwisata juga mendapat dorongan kuat dari Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali. Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, menjelaskan bahwa penguatan ekosistem pariwisata terus dilakukan lewat digitalisasi sistem pembayaran lintas negara melalui QRIS Cross-Border yang kini telah terhubung dengan enam negara. Selain mempermudah transaksi turis asing, BI juga aktif membina UMKM, sektor ekonomi kreatif, dan desa wisata agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dari peta pasar internasional, BBTF 2026 berhasil membuka peluang dari ceruk pasar baru (new markets) melalui kehadiran buyer asal Afrika Selatan dan Vietnam. Perwakilan buyer Afrika Selatan menyatakan ketertarikannya pada produk wisata autentik Indonesia, khususnya wisata budaya, wine, dan gastronomi. Sementara itu, buyer dari Vietnam menggarisbawahi bahwa kepercayaan dan jejaring yang kuat merupakan modal utama dalam membangun bisnis pariwisata yang berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

BACA JUGA:  Lebih dari Sekadar Festival, Beachwalk Kuta Fest 2025 Gaungkan Kembali Pesona Kuta

Ketua Panitia BBTF 2026 sekaligus Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, mengumumkan bahwa ajang tahun ini berhasil membukukan potensi nilai transaksi yang fantastis, yakni mencapai Rp6,9 triliun. Kendati demikian, Winastra menegaskan bahwa keberhasilan sejati dari BBTF tidak diukur dari angka sesaat, melainkan dari dampak jangka panjang pasca-acara. “Kontrak bisnis, pengembangan rute perjalanan (itinerary baru), perluasan kemitraan, dan keputusan buyer membawa wisatawan ke Indonesia adalah esensi utama dari pameran ini,” sebutnya.

Sebagai langkah estafet, panitia resmi memperkenalkan arah pelaksanaan BBTF ke-13 yang akan digelar pada 9–11 Juni 2027 di Bali International Convention Centre (BICC) dengan tema "Bali & Beyond: Regenerative Travel, Elevated". Istimewanya, ajang tahun depan diproyeksikan akan menggandeng Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun paket kolaborasi multi-destinasi. Sinergi antara pariwisata urban Jakarta dan wisata budaya Bali diharapkan mampu memperpanjang masa tinggal (length of stay) wisatawan sekaligus memperluas sebaran dampak ekonomi bagi masyarakat. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top