BADUNG - Fajarbali.com | Industri hospitality dan pariwisata Bali menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap hari. Hotel, restoran, kafe, dan rumah tangga menghasilkan limbah makanan, sisa bahan dapur, serta sampah kebun yang sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir. Limbah tersebut terurai secara anaerobik dan melepaskan metana, sementara nutrisi berharga di dalamnya tidak dimanfaatkan kembali.
su-re.co bekerja sama dengan JCI Japan dan Noema Resort Pererenan menyelenggarakan lokakarya bertajuk “From Waste to Harvest: Closing the Soil-to-Table Loop” di Noema Pererenan Resort, Jl. Pantai Pererenan No. 126, Bali, kamis (22/5/2026).
Lokakarya ini mempertemukan pemerintah, peneliti, praktisi pengelolaan sampah, petani, dan pelaku industri hospitality untuk mengeksplorasi bagaimana sistem pengelolaan limbah organik dapat dihubungkan dengan konsep soil-to-table.
Melalui konsep ini, limbah makanan diolah menjadi kompos, digunakan untuk meregenerasi tanah, mendukung pertumbuhan hasil panen segar, dan akhirnya kembali ke meja makan. Inisiatif ini bertujuan menampilkan contoh nyata kolaborasi lintas sektor dalam mengubah limbah organik menjadi bagian dari siklus yang regeneratif dan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas sektor ini, memiliki peran masing-masing. su-re.co berkontribusi dengan menyediakan Bio-fighter akselerator mikroba yang mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan kualitas kompos, Bio-figther dari su-re.co juga mampu menghilangkan bau menyengat limbah organik dan meminimalisir adanya lalat pada kompos. su-re.co juga memberikan dukungan riset dan teknis.
JCI Japan, menyediakan pendanaan dan dukungan lapangan untuk meningkatkan fasilitas pengolahan limbah milik pemerintah lokal di TPST Pererenan. Fasilitas ini menerima limbah organik dari rumah tangga, restoran, dan hotel, serta berfungsi sebagai infrastruktur skala komunitas.
Sementara Noema Pererenan Resort berperan sebagai mitra hospitality percontohan. Selain membeli hasil panen dari petani mitra, Noema juga menanam bibit di area resort dan mengembangkan menu khusus yang menonjolkan hasil panen dari sistem sirkular ini.
Takeshi Takama, sebagai CEO, mengatakan berbagai permasalahan di bali khususnya masalah sampah mendorong nya untuk bisa membantu masalah sampah tersebut dengan teknologi dari su-re.co. Ia bahkan menargetkan untuk bali , teknologi su-re.co ini bisa lebih dikenal luas tidak hanya di desa Pererenan tetapi juga di seluruh kabupaten di Bali.
" Saya tidak bisa bekerja sendiri, karena organisasi kami masih kecil, jadi start baru 2 saja sekarang. kami berharap organisasi lain bisa ikut bekerjasama dengan kami, "ujarnya.
Sistem sirkular yang dibangun berjalan dari awal hingga akhir: pengumpulan limbah di TPST Pererenan, pengolahan menggunakan Bio-fighter, regenerasi tanah melalui kompos, budidaya tanaman, konsumsi oleh Noema, hingga penutupan siklus dengan mengembalikan limbah organik ke TPST.
Ia berharap organisasi lain juga bisa ikut beekolaborasi. Karena su-re.co menjual bio-figther, Ia berharap organisasi lain juga ikut berkontribusi terhadap bio-figther tersebut. Sebelum Lokakarya dimulai, terlebih dahulu su-re.co, meresmikan mesin mereka di TPST Sudha Pertiwi.
Sekretaris Desa Pererenan, I Ketut Sasmita, mengatakan, Sebelum berdirinya TPST, penanganan sampah di Desa Pererenan dilakukan oleh masyarakat lokal dengan sistem open dumping. Kini, sampah organik masuk ke mesin cacah dan diolah menjadi kompos. Kompos yang dihasilkan diberikan kepada masyarakat secara cuma-cuma jika tidak diambil pihak lain. Dengan bantuan dari su-re.co, diharapkan pengolahan sampah di TPST ini menjadi lebih mudah dan cepat.
“Kalau yang dari su-re.co, selama ini kerjasama berkait dengan pengelolaan sampah organiknya, termasuk fisiasis sama tanah. Itu sangat bagus. Kami di Desa Pererenan memang punya program untuk mengolah sampah secara baik dan benar,” kata Ketut.
Ia menambahkan, 600 kepala keluarga di Desa Pererenan sudah mulai terbiasa melakukan pemilahan sampah. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Badung yang melarang pengiriman sampah ke TPA Suwung mulai Agustus 2026.
Sementara itu, Ketua TPST Sudha Pertiwi, Pererenan, Putu Suadana Putra juga menyampaikan hal yang sama, dimana bantuan dari su-re.co, sangat membantu dalam hal pengolahan sampah di TPST ini.
“Semoga program ini berjalan lancar. Kami akan memelihara fasilitas ini. Kalau program ini sukses, akan sangat membantu kami dalam penanganan sampah organik basah. Produk su-re.co juga tidak terlalu banyak menghabiskan dana desa untuk membakar. Untuk kesehatan juga lebih bagus,” ujar Putu.
Inisiatif From Waste to Harvest: Closing the Soil-to-Table Loop, merupakan percontohan sistem sirkular yang menghubungkan TPST Pererenan, petani lokal, dan sektor hospitality untuk menciptakan siklus pangan yang berkelanjutan di Bali. su-re.co adalah organisasi riset dan aksi yang fokus pada transisi menuju ekonomi sirkular dan rendah karbon melalui inovasi teknologi, riset, dan kolaborasi lintas sektor.M002










