DENPASAR-fajarbali.com | Seiring volatilitas dan ketidakpastian terus berdampak terhadap pasar energi dunia, sektor pariwisata di Bali mulai mengimplementasikan strategi energi sebagai bagian penting dari ketahanan bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi.
Salah satu bukti transisi ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia. Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.
"Kami melihat adanya pergeseran struktural dalam strategi sektor perhotelan memandang energi," kata Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly. "Ini bukan lagi sekadar soal efisiensi biaya, melainkan tentang ketahanan energi, pemenuhan standar global, serta menjawab ekspektasi wisatawan yang semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih destinasi maupun akomodasi.”
Melalui pemanfaatan PLTS atap, operator hotel premium dapat mendiversifikasi bauran energi mereka dengan energi terbarukan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis bahan bakar fosil. Langkah ini membantu meredam dampak tidak langsung dari gejolak geopolitik terhadap stabilitas pasokan energi dan harga listrik.
Tren ini turut mencerminkan perubahan yang lebih luas di industri pariwisata global. Faktor eksternal, seperti konflik geopolitik hingga fluktuasi harga bahan bakar, kini tidak lagi dipandang sebagai risiko jangka panjang, melainkan tantangan operasional yang harus diantisipasi sejak awal.
Terlebih bagi Pulau Dewata, tuntutan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil kian urgen. Bali masih bergantung pada sistem pasokan listrik dari luar pulau, sedangkan kebutuhan listrik terus meningkat sekitar 14–16 persen per tahun, berdasarkan estimasi Pemerintah Provinsi Bali.
Padahal, Bali memiliki potensi energi surya yang besar, meski pemanfaatannya belum optimal. Berdasarkan data dari Institute for Essential Services Reform (IESR), potensi PLTS di Bali diperkirakan mencapai 3,3 hingga 10,9 gigawatt, sedangkan tingkat pemanfaatannya per 2025 baru di bawah satu persen.
Meski demikian, arah kebijakan pemerintah Bali juga semakin mendukung percepatan transisi energi bersih. Sejak 2019, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan regulasi yang mendorong adopsi PLTS atap di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, akomodasi dan pariwisata, hingga sektor swasta atau komersial.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs Pemerintah Provinsi Bali pada Mei 2025, Gubernur Bali Wayan Koster, menyatakan kemandirian energi sebagai kebutuhan strategis bagi Bali.
“Bali mandiri energi tidak bisa ditawar lagi. Ini soal kedaulatan dan masa depan pulau kita, yang notabene tidak memiliki sumber daya alam batu bara ataupun migas lainnya. Salah satu solusi nyata yang bisa segera dilakukan adalah pemanfaatan PLTS atap secara masif,” ujar Koster.
Di luar faktor ketahanan energi, tekanan pasar turut mendorong tren ini. Hotel-hotel di Indonesia kini menghadapi tuntutan dari berbagai arah, mulai dari komitmen perusahaan induk global, investor, regulator, hingga wisatawan.
Dari sudut pandang wisatawan, riset Sustainable Travel 2025 dari Booking.com, menunjukkan 93 persen responden kini secara aktif mempertimbangkan opsi perjalanan yang lebih berkelanjutan saat membuat keputusan bepergian. Survei tersebut melibatkan 32.000 wisatawan dari 34 negara, termasuk Indonesia.
Semua dinamika ini menunjukkan sinyalemen adopsi energi terbarukan di sektor pariwisata Bali didorong oleh kebutuhan manajemen risiko sekaligus tekanan pasar. Seiring ketidakpastian akibat geopolitik dan meningkatnya ekspektasi terhadap keberlanjutan, prioritas akan energi telah berubah, dari sekadar isu operasional menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing bisnis.
Namun demikian, transisi energi di sektor pariwisata Bali takkan cukup jika hanya bertumpu pada beberapa proyek tunggal saja. Untuk mewujudkan ketahanan energi yang konkret, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara pelaku industri, investor, dan pembuat kebijakan.










