DENPASAR-fajarbali.com | Seiring volatilitas dan ketidakpastian terus berdampak terhadap pasar energi dunia, sektor pariwisata di Bali mulai mengimplementasikan strategi energi sebagai bagian penting dari ketahanan bisnis jangka panjang. Sejumlah hotel premium di Pulau Dewata kini mempercepat adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, tidak hanya untuk memenuhi target keberlanjutan, tetapi juga mengurangi risiko akibat volatilitas suplai dan harga energi.
Salah satu bukti transisi ini adalah pemasangan PLTS atap yang baru saja rampung di sebuah resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama dengan Greenvolt Power Indonesia. Sistem tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) dan memberikan kontribusi terhadap tren adopsi PLTS atap di sektor perhotelan Bali.
"Kami melihat adanya pergeseran struktural dalam strategi sektor perhotelan memandang energi," kata Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly. "Ini bukan lagi sekadar soal efisiensi biaya, melainkan tentang ketahanan energi, pemenuhan standar global, serta menjawab ekspektasi wisatawan yang semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih destinasi maupun akomodasi.”
Melalui pemanfaatan PLTS atap, operator hotel premium dapat mendiversifikasi bauran energi mereka dengan energi terbarukan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis bahan bakar fosil. Langkah ini membantu meredam dampak tidak langsung dari gejolak geopolitik terhadap stabilitas pasokan energi dan harga listrik.










