SEMARAPURA-fajarbali.com | Bertepatan dengan Rahina Tilem Kadasa, Kamis 16 April 2026, Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa kembali menggelar pawintenam massal yang diikuti 278 peserta. Pawintenan kali ini digelar serangkaian dengan pujawali di Pasraman Sri Taman Ksetra, Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.
Ketua Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa Jro Mangku Ketut Suryadi Putra, menjelaskan, pawintenan ini merupakan yang keenam kalinya digelar yayasannya. Pesertanya pun cenderung meningkat bahkan datang dari luar Bali.
Hal ini memandakan semakin banyak umat Hindu yang ingin meningkatkan kualitas spiritualnya, serta memohon kekuatan taksu pada setiap profesi yang dijalani masing-masing. Meningkatnya peserta pawintenan massal juga mengindikasikan bahwa Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa semakin dikenal umat serta ajarannya bisa diterima.
"Salah satu kunci kami yakni membangun sinergi dengan jajaran pemerintahan, legislatif termasuk kepolisian dan TNI. Kami undang semua agar semua tahu bahwa kegiatan kami legal," jelas Mangku Suryadi Putra didampingi Ketua Panitia Pawintenan Jro Mangku Restu Celagi.
Mangku Suryadi Putra menambahkan, seiring semakin lengkapnya fasilitas di pasraman, pihaknya menambah sejumlah kegiatan, seperti nyurat aksara Bali tiap malam Sabtu. Selain itu, ia merancang program Brahmawidya dengan materi seputar etika kehidupan khususnya bagi para pemangku.
Untuk program eksternal, Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa bakal mengagendakan Dharma Yatra membina umat di luar Bali. "Rencananya kita akan ke Lombok," kata dia. "Dulu pernah ke daerah di pulau Jawa," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirthi, mengungkapkan, pawintenan kali ini terdiri dari empat jenis, yakni Pawintenan Saraswati, Dasaguna, Ganapati dan Bhaerawa.
Pawintenan Saraswati, jelas Ida Pandita, diperuntukkan bagi mereka yang memulai belajar. Pawintenan jenis ini bisa diikuti mulai anak-anak/pelajar. Kemudian Pawintenan Dasaguna, diperuntukkan bagi seseorang yang akan mengambil profesi berbasis agama/budaya. Misalnya sarati banten, undagi dan sebagainya.
"Kalau Ganapati itu merupakan lanjutan dari Dasaguna. Untuk Pawintenan Bhaerawa ini khusus tujuannya menyebarluaskan ajaran Bhaerawa, menyiapkan diri melepas ego, ketakutan, ilusi dan keterikatan untuk yang ingin menekuni ajaran Bhaerawa," ungkapnya.
Ida Pantida menegaskan, pawintenan bukanlah sebuah jaminan. Ia berpesan kepada peserta pawintenan agar jangan tinggi hati karena merasa sudah punya kemampuan lebih. Malah sebaliknya, Ida Pandita menegaskan agar peserta setelah diwinten wajib menempa diri dengan belajar lebih keras lagi.
"Yang perlu dicamkan adalah esensi pawintenan adalah penyucian diri. Dasar memasuki dunia yang diinginkan. Setelah mawinten wajib belajar lebih keras. Itu tuntutan," ungkapnya.
Karya ngenteg linggih dan pujawali diputut oleh Ida Pandita Nabe Dukuh Acharya Dhaksa, Grya Padukuhan Samiaga, Penatih, Denpasar. Sedangkan pamuput pawintenan Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirthi dan Ida Pandita Dukuh Celagi Padni Pradnya Gothami.










