Penekun Lontar Sabet Bali Kerthi Nugraha Mahottama

IMG-20260301-WA0005
Penekun lontar asal Denpasar, I Wayan Turun, mendapatkan Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama.

DENPASAR-fajarbali.com | Dedikasi puluhan tahun dalam merawat dan menulis warisan aksara Bali mengantarkan I Wayan Turun menerima Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama dari Pemerintah Provinsi Bali.

Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur Bali Wayan Koster serangkaian peringatan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026, di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya ( Art Centre), Sabtu (28/2/2026).

I Wayan Turun dikenal sebagai penekun lontar, penulis purana, dan babad yang konsisten berkarya sejak akhir 1970-an. Sekitar tahun 1978–1979, ia mulai aktif menulis dan menyalin naskah lontar. Hingga kini, tak kurang dari 200 lontar telah ia hasilkan—baik berupa Kakawin, Kidung, Purana Pura, maupun Babad.

“Menulis lontar bukan hanya pekerjaan tangan, tetapi juga kerja batin,” ungkap pria kelahiran 1951 asal Desa Kesiman, Denpasar saat ditemui usai menerima penghargaan.

Selain menulis sastra klasik seperti kakawin dan kidung, Turun juga dikenal sebagai penulis prasasti. Ia mengerjakan sejumlah prasasti pura dan tanah adat, termasuk penulisan Purana serta kajian aksara Bali klasik. Dalam prosesnya, ia tak hanya menggunakan aksara Bali biasa, tetapi juga mendalami aksara Bali Kuna, Jawa Kuna, hingga Dewanagari untuk kepentingan penelitian dan penyusunan naskah.

Sejak 2008 hingga memasuki masa purnabakti sekitar 16 tahun kemudian, Turun tetap aktif berkarya dan terlibat membantu tugas-tugas di lingkungan dinas provinsi, khususnya yang berkaitan dengan penulisan Purana dan pengembangan aksara Bali. Bahkan setelah pensiun, aktivitas menulis lontar tetap ia jalani.

Bagi Turun, perkembangan penulisan lontar saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang. Tantangan terbesar adalah regenerasi. “Sekarang membaca aksara Bali Kuna saja sudah jarang yang bisa. Kalau tidak diwariskan, bisa hilang,” ujarnya.

Namun ia juga melihat adanya harapan melalui kegiatan Bulan Bahasa Bali dan meningkatnya perhatian terhadap dokumentasi serta penelitian naskah kuno. Menurutnya, lontar bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang memuat sejarah, tata kehidupan, hingga nilai spiritual masyarakat Bali.

BACA JUGA:  Akulturasi Cerminan Seni

Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama yang diterimanya menjadi penegasan atas konsistensi dan pengabdiannya menjaga warisan literasi tradisional Bali. Lebih dari sekadar prestasi pribadi, penghargaan itu menjadi simbol bahwa kerja sunyi para penulis lontar tetap mendapat tempat dalam pembangunan kebudayaan Bali.

Di usianya yang tak lagi muda, I Wayan Turun tetap tekun menulis. Baginya, selama tangan masih mampu menggores aksara di atas lontar, selama itu pula warisan leluhur akan terus ia jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya.

Atas dedikasi serta komitmenya melestarikan aksara dan Bahasa Bali, I Wayan Turun mendapatkan Anugerah Bali Kerti Nugraha Mahottama berhak mendapat uang senilai Rp 100 juta dan pin emas seberat 25 gram.

Berikut beberapa karya I Wayan Turun diantaranya Geguritan Penataran, Kidung Kidalang Pricek, Geguritan Busana dan Geguritan Bali Batur.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top