Desa Cerdas Dimulai dari Pekarangan Melalui Program Smart Village Bali

IMG-20260219-WA0002
TIM KKN Unwar melakukan survei dan pemetaan lubang biopori dan teba modern di Desa Singapadu Tengah, Sukawati, Gianyar.

GIANYAR-fajarbali.com | Persoalan sampah sering kali terasa besar dan rumit. Namun di Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Gianyar, solusi justru dimulai dari halaman rumah warga.

Melalui Program Smart Village Bali, tim dosen dan mahasiswa KKN Universitas Warmadewa (Unwar) melakukan survei dan pemetaan lubang biopori serta teba modern sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga.

Program ini bukan sekadar pendataan teknis. Ia adalah langkah kecil dengan dampak besar—menghubungkan kearifan lokal Bali dengan semangat pembangunan berkelanjutan dunia sebagaimana dicanangkan dalam agenda United Nations melalui Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 (Permukiman Berkelanjutan) dan Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Di banyak desa, sampah organik rumah tangga masih dikelola secara sederhana—dibakar di teba tradisional atau menunggu truk pengangkut sampah. Praktik ini memang praktis, tetapi menyimpan risiko: pencemaran udara, penumpukan sampah, hingga menurunnya kualitas kesehatan lingkungan.

Padahal, Bali memiliki kearifan lokal berupa teba—ruang terbuka di pekarangan rumah yang sejak dulu menjadi tempat pengolahan sisa organik. Kini, konsep tersebut diperkuat dengan teknologi sederhana seperti lubang biopori dan teba modern, yang tidak hanya mengolah sampah organik menjadi kompos, tetapi juga meningkatkan daya resap air hujan.

Berdasarkan data Pemerintah Desa Singapadu Tengah tahun 2025, dari total 1.047 kepala keluarga (KK), sebanyak 579 KK atau 55,30% telah menerima bantuan teba modern. Artinya, masih ada 468 KK (44,70%) yang belum memperoleh fasilitas tersebut.

Distribusi bantuan pun belum sepenuhnya merata. Ada banjar yang sudah memiliki cakupan tinggi, namun ada pula yang masih relatif rendah. Ketimpangan ini menjadi catatan penting bagi pemerintah desa untuk tahap pengembangan selanjutnya.

BACA JUGA:  Diperkuat, Kapasitas dan Peran Jurnalisme Mitigasi Bencana Alam di Bali

Tim KKN melakukan survei terhadap 23 responden di lima banjar: Abasan, Kutri, Belaluan, Griya Kutri, dan Negari. Hasilnya cukup menggembirakan: dari 10 responden penerima bantuan teba modern, 90% telah memanfaatkannya secara optimal untuk mengolah sampah organik rumah tangga. Hanya 10% yang belum menggunakan secara maksimal.

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada kesadaran masyarakat penerima, melainkan pada keterbatasan jangkauan distribusi.

Menariknya, proses survei juga membuka ruang dialog yang hangat antara mahasiswa dan warga. Diskusi bersama Kelian Banjar Belaluan sebelum terjun ke rumah-rumah penduduk memperlihatkan pentingnya komunikasi partisipatif dalam membangun kesadaran lingkungan.

Pendekatan ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal menyediakan fasilitas, tetapi juga soal membangun pemahaman dan perubahan perilaku.

Di sisi lain, bagi masyarakat yang belum menerima bantuan, pola pengelolaan sampah masih didominasi oleh pembakaran atau ketergantungan pada sistem pengangkutan desa. Jika tidak diimbangi dengan edukasi dan fasilitas memadai, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dalam jangka panjang.

Konsep Smart Village Bali tidak selalu identik dengan teknologi digital. Di Desa Singapadu Tengah, “cerdas” berarti mampu mengelola sumber daya secara bijak dan berkelanjutan.

Hasil program menunjukkan bahwa teba modern memiliki potensi besar dalam menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih dan sehat. Namun, untuk mencapai dampak maksimal, diperlukan dua strategi utama: pemerataan bantuan dan penguatan edukasi masyarakat.

Jika seluruh 1.047 kepala keluarga mampu mengelola sampah organik dari sumbernya, maka beban lingkungan desa akan berkurang secara signifikan. Tim KKN terdiri dari; I Wayan Parwata, I Made Dimas Wira Satwika dkk, yang merupakan mahasiswa Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Unwar. (rel)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top